Angkat Tema Anti-Bullying, Nunuy Nuraeni Wakili Unpad di International Conference on Education & Social Sciences di Malaysia

Nunuy Nuraeni menunjukkan sertifikat keikutsertaannya di International Conference on Education and Social Sciences di Kuala Lumpur, Malaysia, 16 Juli 2015 lalu. (Foto oleh: Purnomo Sidik)*

[Unpad.ac.id, 27/07/2015] Mengangkat mengenai anti-bullying, mahasiswa Fakultas Kedokteran Unpad, Nunuy Nuraeni terpilih menjadi salah satu peserta pada International Conference on Education and Social Sciences di Kuala Lumpur, Malaysia. Acara ini digelar oleh The Institute of Research Engineers and Scientists di Kuala Lumpur, Malaysia pada 16 Juli 2015 lalu.

Nunuy Nuraeni menunjukkan sertifikat keikutsertaannya di International Conference on Education and Social Sciences di Kuala Lumpur, Malaysia, 16 Juli 2015 lalu. (Foto oleh: Purnomo Sidik)*
Nunuy Nuraeni menunjukkan sertifikat keikutsertaannya di International Conference on Education and Social Sciences di Kuala Lumpur, Malaysia, 16 Juli 2015 lalu. (Foto oleh: Purnomo Sidik)*

Pada kegiatan tersebut, Nunuy mempresentasikan makalahnya yang berjudul “Application of Integrated Education as an Anti-bullying Approach to Reduce the Number of School Bullying: A Literature Study”. Ia menjadi satu-satunya peserta asal Indonesia dari 35 peserta yang melakukan presentasi makalah pada konferensi yang diikuti oleh sejumlah peserta dari berbagai negara di dunia itu.

“Saya membuat paper tentang aplikasi pendidikan yang terintegrasi untuk menghindari bully. Karena di tingkat anak sekolah banyak sekali aktivitas bully, dan tidak semua orang tahu bully. Bahkan secara tidak sadar gurunya pun bisa melakukan bully,” ungkap Nunuy saat ditemui di ruang UPT Humas Unpad, Gedung Rektorat, kampus Jatinangor, Senin (27/07).

Menurutnya, untuk menghindari tindak bully, maka perlu adanya integrasi pendidikan antara di rumah (orang tua/keluarga), sekolah (guru), dan komunitas (teman pergaulan). Menurutnya, saat ini pendidikan mengenai hal tersebut masih dilakukan secara terpisah (belum terintegrasi).

“Antara orang tua, guru, dan komunitas itu harus bergabung. Soalnya untuk menghindar sifat ini kan tidak bisa dari orang tua dijaga tapi di sekolahnya enggak,” kata Nunuy.

Untuk mengintegerasikannya, Nunuy mengungkapkan bahwa perlu adanya peran dari pemerintah, mulai dari pemerintah pusat hingga daerah. Dengan demikian, ia mengharapkan hasil penelitiannya ini dapat berkontribusi bagi pengembangan kebijakan pemerintah kedepannya.

“Kebetulan saya dari Kedokteran. Sebenarnya ini unik juga sih ngebahas tentang ilmu sosial gitu. Tapi karena saya memang tertarik tentang pendidikan. Dan di sini ada hubungannya tentang psikologi anak tuh seperti apa,” ujar Nunuy. Dalam penyusunan makalah ini, ia dibantu oleh temannya yaitu Aisha Shannaz dari Fakultas Psikologi Unpad dan Uha Julaeha dari Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad.

Nunuy sendiri tertarik untuk mendalami mengenai anti kekerasan ini sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Pada saat itu, meski ia masih tidak tahu apa itu bully dan tidak pernah menjadi korban bullying, tapi ia sudah melihat tindak kekerasan yang dilakukan teman sebayanya di sekolah. Saat ini, tindak bully bahkan sudah berkembang hingga cyber bullying.

Ia pun tertarik untuk melakukan penelitian mengenai anti-bullying bagi anak sekolah, karena menurutnya hinggga saat ini masih banyak tindak bully oleh anak sekolah. “Mereka itu generasi penerus bangsa. Kalau misalnya mereka selalu melakukan hal yang negatif, mau jadi apa negara kita kedepannya?” ujarnya.

Dengan mengikuti konferensi internasional bertema pendidikan dan ilmu sosial tersebut, Nunuy pun mengaku mendapatkan pengalaman, pengetahuan, dan relasi baru. “Harapnya ya makin menggali ilmu lagi, enggak hanya di Kedokteran. Ternyata ilmu itu luas. Ilmu-ilmu lain juga penting diketahui juga.”*

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh

Share this: