[Unpad.ac.id, 21/09/2015] Pengelolaan keuangan negara tidak bisa dilepaskan dari siapa yang berkuasa serta siapa yang diberi kekuasaan. Untuk itu, kekuasaan harus dikontrol agar akuntabilitas pengelolaan keuangan negara yang dimandatkan dapat berjalan dengan baik.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Eddy Mulyadi Soepardi, anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI dalam kuliah umum bertajuk “Pengelolaan Keuangan Negara Sektor Publik” di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Senin (21/09). Kuliah umum ini merupakan kuliah perdana bagi Program Pascasarjana Unpad yang diikuti oleh mahasiswa Pascasarjana TA. 2014/2015 gelombang II dan TA 2015/2016 gelombang I.
Prof. Eddy mengatakan, di Indonesia proses pembelanjaan uang negara oleh pemegang kekuasaan diawali melalui proses politik. Terkadang, janji politik dengan implementasi di lapangan tidak pernah sama dan malah menjadi tontonan buruk di Indonesia. Kebohongan menjadi suatu tindakan yang lazim terjadi.
Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad ini mengatakan, kebohongan ini rentan terjadi pada pelaksana tugas (agent) yang diberikan oleh pemegang kekuasaan (principal). Principal dengan sengaja memberikan tugas kepada agent untuk melakukan tindak kebohongan. Hal inilah yang menyebabkan korupsi banyak terjadi di Indonesia.
Pengelolaan keuangan negara tidak hanya berhenti hingga laporan pertanggungjawaban selesai dibuat. Untuk itu, ia menekankan kepada mahasiswa Pascasarjana, khususnya dari program Akuntasi, untuk memahami dengan baik filosofi laporan keuangan.
“Buatlah satu laporan keuangan yang governance tanpa tekanan dari kekuasaan. Kekuasaan ada waktunya, kebohongan itu akan terus melekat sampai di akhirat,” kata Prof. Eddy.
Kuliah perdana ini digelar oleh Program Pascasarjana Unpad. Turut hadir Rektor Unpad, Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad, dr., Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, dan Kerja Sama Unpad, Dr. med. Setiawan, dr., Direktur Program Pascasarjana Prof. Dr. Ir. Mahfud Arifin, M.S.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Setiawan juga menyampaikan pentingnya proses penelitian dan pembelajaran pada pendidikan Pascasarjana. Dalam rangka mendukung pencapaian riset unggulan, Unpad masih belum memenuhi target. Hal inilah yang terus digulirkan Unpad bahwa riset tidak boleh lepas dari proses pembelajaran.
Dr. Setiawan menjelaskan, integrasi riset pada program Pascasarjana diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas. Lulusan Program Magister diharapkan dapat mengelola suatu riset dengan tujuan utamanya ialah mendapat pengakuan dari Pemerintah. Sementara lulusan Program Doktor diharapkan dapat melakukan pedekatan transdisiplin dan bisa memimpin sebuah riset.*
Laporan oleh: Arief Maulana / eh
