[Unpad.ac.id, 27/04/2016] Aspek pengetahuan menjadi suatu landasan penyusunan konsep Universitas Padjadjaran sebagai Institutional Memory. Selain sebagai kekayaan intelektual, aspek ini juga menjadi bahan untuk pengambilan keputusan dalam menjalankan organisasi institusi. Untuk itu, pengelolaan pengetahuan ini harus dilaksanakan dengan serius.

Hal tersebut disampaikan Staf Ahli Kementerian Pariwisata RI, Gustaff H. Iskandar, saat menyampaikan materi dalam Workshop Galeri dan Museum yang digelar UPT Perpustakaan Unpad di Unpad Training Center Jln. Ir. H. Djuanda No. 4, Bandung, Senin (25/04). Workshop ini diikuti oleh tim Direktorat Teknologi dan Sistem Informasi, serta para pengembang perpustakaan, museum, dan galeri Unpad.
Dalam rilis yang diterima Unpad, workshop ini merupakan rangkaian dari beberapa workshop sebelumnya yang diadakan oleh UPT Perpustakaan Unpad terkait keperluan penyusunan konsep Unpad Institutional Memory. Konsep yang diusulkan oleh UPT Perpustakaan ini menjadi rancangan pengelolaan pengetahuan di Unpad ke depannya.
Gustaff menuturkan, selain unit perpustakaan dan kearsipan, unit yang berperan dalam mengelola pengetahuan ialah museum dan galeri. Meski memiliki fungsi yang berbeda, keduanya memiliki irisan sebagai penyimpan khazanah kebudayaan.
“Hal yang membedakannya adalah bahwa galeri hanya menonjolkan hal-hal kekinian atau yang tematik saja. Fungsi museum dan galeri adalah untuk menampilkan produk-produk peradaban dengan cara artistik,” kaya Gustaff.
Terkait teknis galeri, diperlukan beberapa hal di antaranya ketersediaan ruangan pendukung, misalnya ruang pameran permanen, pameran tematik, teknis, storage, hingga ruang staf dan administrasi. Adapun tenaga ahli yang dibutuhkan adalah kurator ahli, manajemen programmer, IT support, komunikasi visual, dan lain-lain.
Diperlukan adanya standar yang baku dan dukungan pimpinan universitas untuk mewujudkan gagasan tersebut. Standar ini umumnya berlaku secara umum. Yang membedakan adalah skala karakteristik Keunpadannya. Skala ini juga bisa diperluas menjadi skala jatinangor.
Selain standar, kemampuan lain yang dibutuhkan juga adalah kemampuan komunikasi, memasarkan gagasan, serta kemampuan strategi display.
Di akhir pemaparannya, Gustaff menekankan perlunya dukungan dalam pengembangan museum dan galeri ini. Pengembangan galeri dan museum ini perlu didukung karena belum banyak instansi yang mengembangkan institusi ini. Ia menjelaskan bahwa ruang museum dan galeri ini diperlukan sebagai wadah untuk mengembangkan tangible experience yang masih diperlukan dalam proses kegiatan pendidikan.
Dalam pertemuan ini juga dilakukan koordinasi antara tim DTSI Unpad dengan Dr. Ismail Fahmi selaku pengembang Indonesia One Search Perpustakaan Nasional. Pertemuan ini merupakan tindaklanjut dari workshop sebelumnya untuk pengembangan repository institusi di Universitas Padjadjaran. *
Rilis oleh: UPT Perpustakaan Unpad/am
