Informasi Penanggulangan Bencana Harus Mudah Dipahami dan Ubah Perilaku Masyarakat

Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ir. B. Wisnu Widjaja, M.Sc. saat menjadi salah satu pembicara dalam Konferensi Nasional “Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas XII” di Ruang Serba Guna Gedung 2 Lantai 4, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Selasa (22/11). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

[Unpad.ac.id, 22/11/2016] Untuk menginformasikan tentang kebencanaan, tidak cukup hanya membuat informasi lalu menyebarluaskannya. Informasi tersebut harus dipastikan dapat dipahami, dan menimbulkan perubahan perilaku dari masyarakat.

Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ir. B. Wisnu Widjaja, M.Sc. saat menjadi salah satu  pembicara dalam Konferensi Nasional “Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas XII” di Ruang Serba Guna Gedung 2 Lantai 4, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Selasa (22/11). (Foto oleh: Tedi Yusup)*
Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ir. B. Wisnu Widjaja, M.Sc. saat menjadi salah satu pembicara dalam Konferensi Nasional “Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas XII” di Ruang Serba Guna Gedung 2 Lantai 4, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Selasa (22/11). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

“Masyarakat pada dasarnya akan selamat kalau masyarakat itu mendapatkan informasi yang tepat dan mampu mengubah perilaku mereka untuk menjadi perilaku yang memahami bencana,” tutur Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ir. B. Wisnu Widjaja, M.Sc. saat menjadi salah satu  pembicara dalam Konferensi Nasional “Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas XII”  yang digelar atas kerja sama Unpad dengan Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) di Ruang Serba Guna Gedung 2 Lantai 4, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Selasa (22/11).

Lebih lanjut Wisnu mengungkapkan, banyak pembuat informasi kebencanaan hanya berfokus pada aspek “produksi” saja. Mereka merasa puas ketika informasi sudah dibuat, dan tersaji di sejumlah media. Padahal menurut Wisnu, perubahan perilaku masyarakat untuk lebih tanggap bencana merupakan hal yang lebih penting. Informasi tersebut harus dapat menggerakan masyarakat untuk dapat menghadapi dan menyelamatkan diri dari bencana.

“(Informasi) sampai saja tidak cukup. Paham saja tidak cukup,” ujar Wisnu.

Acara ini juga turut dihadiri oleh Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad. Menurut Rektor, dalam menghadapi risiko bencana, maka yang harus dilakukan adalah melalui pendekatan antisipatif, tidak cukup preventif, apalagi responsif. Sekarang, pengelolaan risiko bencana lebih didominasi oleh responsif. Menghadapi risiko pun perlu dilakukan melalui kekuatan akademik.

“Kalau kemampuan riset kita kuat, mestinya mitigasi ini akan sangat kuat nantinya. Kemampuan kita mencatat, mempersiapkan, memperhitungkan berbagai risiko sehingga tindakan-tindakan yang dilakukan dasarnya kuat,” ujar Rektor.

Dengan dasar yang kuat tersebut, maka hal selanjutnya yang perlu dilakukan adalah meyakinkan masyarakat dan pemerintah. Untuk itu, jejaring kerja sama pun harus kuat dengan berbagai pihak, dan berbagi “siapa melakukan apa”.

“Dengan dasar kita mau saling memahami, berbagi peran, membangun kepercayaan. Kalau tidak ada sinergi seperti ini, berat kita menanggulanginya,” kata Rektor.

Di sela pelaksanaan konferensi, juga dilakukan penandatanganan Piagam Kerja Sama antara Unpad dengan Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia. Piagam Kerja Sama ditandatangani oleh Rektor Unpad dengan Ketua MPBI, Eko Teguh Paripurno.*

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh

Share this: