Teliti Ekologi Politik pada Kelangkaan Air, Supriady RP Siregar Ikuti Kompetisi Internasional di Hamburg Jerman

Supriady R.P Siregar, mahasiswa Agroteknologi Unpad angkatan 2013. *

[Unpad.ac.id, 19/12/2016] Mahasiswa Fakultas Pertanian Unpad, Supriady R.P Siregar, berhasil mengikuti kegiatan The 18th International Competition on Recent Innovations and Potential Applications di Hamburg, Jerman pada 28-31 Oktober 2016 lalu. Ia menjadi salah satu dari 50 peserta lomba dari beberapa negara di dunia yang berkesempatan tampil di ajang bergengsi tersebut.

Supriady R.P Siregar, mahasiswa Agroteknologi Unpad angkatan 2013. *
Supriady R.P Siregar, mahasiswa Agroteknologi Unpad angkatan 2013. *

Supriady berhasil mengikuti kegiatan tersebut setelah mengikuti tahap seleksi dari puluhan negara calon peserta. Dia mempresentasikan proyek ilmiahnya yang berjudul, “Political Ecology Perspective and Water Integration Treatment System With Nano Filter Technology as Solution of Fresh Water for the Future.”

Supriady mengatakan, penelitian ini didasarkan atas kegalauan bahwa pada saat ini terjadi “kelangkaan air pada kelimpahan”. Menurutnya, saat ini kelangkaan air ikut dipengaruhi oleh faktor ekologi politik karena politik mempengaruhi lembaga air di skala lokal, nasional dan global. Hal ini dapat terjadi seperti keputusan yang salah dari para pemangku kepentingan yang pada kenyataannya menyebabkan komodifikasi air telah menjadi barang yang bisa menghasilkan uang.

Dia juga menambahkan, di Indonesia ada banyak lembaga yang berbagi peran dan tanggung jawab untuk alokasi air dan pemanfaatannya. Masing-masing lembaga ini memiliki ambisi mereka sendiri. Misalnya, lembaga pertanian menuntut air untuk mengairi tanaman dan sawah. Sementara itu, badan lingkungan berfokus pada konservasi air dan memberikan izin lingkungan untuk sektor swasta yang ingin mengambil manfaat apapun dari air. Badan sumber daya pertambangan dan mineral di sisi lain memiliki otoritas atas izin teknis.

“Adanya modal dan investasi, kepala daerah hanya menyetujui semua dokumen. Akhirnya, pihak yang berwenang dan peran tersebar di banyak pihak, namun tidak ada upaya substansial untuk koordinasi, intinya belum ada integrasi baik,” papar Supriady.

supriady-hamburg2Ia membuat proyek ilmiah tersebut juga karena melihat bahwa pada intinya belum ada manajemen yang baik serta tingginya angka kelangkaan air di hampir setiap wilayah di Indonesia padahal curah hujan di Indonesia cukup tinggi sekitar 2000-4000 mm per tahun.

“Yang sebenarnya berkah, tapi buat kita justru menjadi masalah seperti krisis air bersih dibeberapa wilayah,” ujar mahasiswa Agroteknologi angkatan 2013 ini.

Sumber-sumber air di beberapa daerah telah dijadikan sebagai barang yang menghasilkan uang dan hanya dinikmati oleh sebagian orang. Kondisinya saat ini, tidak semua daerah di Indonesia memiliki perusahaan air minum sendiri.

“Nah dengan penelitian dan alat saya ini, nantinya akan mampu memenuhi kebutuhan air bersih penduduk di setiap wilayah,” tutur mahasiswa yang akrab dipanggil Ady ini.

Saat ini, karya yang ia buat masih berupa prototype dan akan terus ditingkatkan agar bisa direalisasikan. Ady sendiri menyebutkan alatnya itu dapat diaplikasikan untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat satu desa. Sistem kerja alat tersebut, yaitu air (dari hujan atau limbah rumah tangga) ditampung di water polder tank yang ada di setiap rumah untuk selanjutnya mengalir ke water polder tank besar yang akan ada di setiap perumahan atau desa. Air tersebut kemudian akan mengalami sejumlah proses penyaringan dalam collector tank dan nano filter technology sehingga air dapat terbebas dari sejumlah partikel berbahaya dan bakteri. Selain dapat memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, alat tersebut juga dapat meminimalisir air yang tergenang. *

Rilis / eh

Share this: