[unpad.ac.id, 27/10/2017] Pusat unggulan SDGs Center Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan Korean Association of International Development and Cooperation (KAIDEC) menggelar “the 3rd International Symposium on Asian Development Studies” yang digelar di Unpad Training Center, Jalan Ir. H. Djuanda No. 4, Bandung, Kamis (26/10) dan Jumat (28/10).

Simposium internasional ini mengangkat tema kemitraan dan keterlibatan state actor dan non-state actor dalam mengatasi ketidaksetaraan pembangunan. Simposium ini mengundang para ahli dunia untuk membahas berbagai isu strategis terkait pembangunan di kawasan Asia.
Direktur SDGs Center Unpad Prof. Armida S. Alisjahbana, mengatakan, simposium digelar untuk membahas berbagai isu seputar tantangan dan permasalaham pembangunan di kawasan Asia.
Ada tiga isu besar yang dibahas dalam simposium ini, yaitu tantangan pembangunan kawasan Asia, masalah kesetaraan, serta isu kerja sama dan keterlibatan antar negara aktor dan bukan aktor. Diharapkan, simposium ini dapat menghasilkan solusi yang komprehensif.
Dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor bidang Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Korporasi Akademik Unpad Dr. Keri Lestari, M.Si., Apt. Dalam sambutanya Dr. Keri mengatakan, Unpad berkomitmen mendukung pelaksanaan tujuan pembangunan berkelanjutan. Pada aktivitas tridarma, kurikulum pembelajaran pun dikembangkan kepada pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
“17 gol dalam SDGs telah dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajaran. Mahasiswa setidaknya harus tahu bagaimana aspek pembangunan keberlanjutan dalam aktivitas masyarakat,” kata Dr. Keri.
Terkait simposium ini, Dr. Keri menekankan, bahwa semangat kesetaraan menjadi isu penting dalam tujuan pembangunan, baik dalam tujuan pembangunan milenium (MGDs) maupun tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Adapun pembicara dalam simposium ini yaitu Prof. Heeijin Lee (Presiden KAIDEC), Toru Yanagihara (Jepang), Bisnu Dev Panta (Nepal), Denison Jayasooria (Malaysia), Ian Coxhead (Amerika Serikat), Ronina Asis (Filipina), Sato Kan Hiroshi (Jepang), Sothy Kieng (Kamboja), Vu Ngoc Binh (Vietnam), Dong Qiang (RRC), Jiyoung Kim (Korea Selatan), Stephen Houwes (Australia), Min Joung Park (Korea Selatan), Jioyun Park (Korsel), Eun Mie Lim (Korsel), Marife Ballesteros (Filipina), Sunggyu Jim (Korsel), Bibhuti Ranjan Jha (Nepal), dan Kyungyon Moon (Korea Selatan).
Sementara dari pihak Unpad menghadirkan pembicara Prof. Armida Alisjahbana, Dr. Keri Lestari, Prof. Arief Anshory Yusuf, PhD, Dr. Zuzy Anna, M.Si., dan Ade Kadarisman, M.Sc.
Dalam kesempatan tersebut, juga ditandatangani naskah perjanjian kerja sama (MoU) antara SDGs Center Unpad dan KAIDEC. Penandatanganan ini dilakukan Prof. Armida dengan Prof. Hee-jin Lee.
Sementara itu, Presiden KAIDEC Prof. Hee-jin Lee mengatakan bahwa di era tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), ketidaksetaraan telah berkembang di kawaasan Asia dalam proses pencapaian pengembangan ekonomi. Untuk itu, konteks ini kemudian dipilih sebagai tema dari simposium tersebut.
“Donor dan penerima utama di Asia harus bekerja sama dan mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasi ketidaksetaraan dalam konteks pembangunan dan kerjasama internasional,” kata Prof. Hee-jin Lee.
Pada diskusi panel pertama membahas status ketimpangan yang saat ini terjadi di Nepal, Vietnam, dan Indonesia dan cara memperbaiki ketidaksetaraan di negara-negara tersebut.
Profesor Panto dari Universitas Kathmandu di Nepal mengatakan bahwa pencapaian SDGs akan memainkan peran penting dalam mengurangi ketidaksetaraan di Nepal. Namun hal ini adalah tantangan yang sulit bagi pemerintah Nepal, seperti dalam kasus MDGs.
Profesor Cox dari University of Wisconsin yang juga peneliti tambahan SDG Center menekankan pentingnya pendidikan dalam menyelesaikan ketidaksetaraan dengan mengutip studi kasus di Indonesia dan Vietnam.
Sementara di panel kedua membahas kemunculan berbagai pemain untuk mencapai SDGs dan peran mereka dalam hal ini.
Dr. Khieng dari Cambodia Development Resource Institute (CDRI) membahas kecenderungan partisipasi organisasi nirlaba dalam komersialisasi dan pengembangan serta berbicara mengenai kemunculan berbagai pemain, mengutip kasus Kamboja.
Profesor Kim Ji-young dari Universitas Soongsil mengatakan bahwa peran sektor swasta di masyarakat penting dalam mengurangi kemiskinan. Dia menambahkan bahwa kolaborasi yang harmonis antara pemerintah pusat, sektor swasta di masyarakat, dan program bantuan luar negeri merupakan faktor penting dalam mengurangi kemiskinan.
Pada hari kedua, pembicara dari diskusi panel ketiga menyajikan kasus ketidaksetaraan di bidang energi, air, dan pembiayaan, serta mendiskusikan bagaimana memperbaiki ketidaksetaraan semacam itu.
Prof. Arief Anshori Yusuf dari Unpad mengatakan bahwa kebijakan subsidi pensiun telah memperparah ketidaksetaraan di Indonesia, dan oleh karena itu reformasi yang sesuai dengan kebijakan harus dibuat untuk membalikkan keadaan.
Pejabat kerja sama ASEAN Min-jung Park menjelaskan beragam proyek pembangunan dengan menggunakan Dana Kerjasama ASEAN-ROK (AKCF), yang diajukan untuk memperkuat kemitraan antara Korea dan ASEAN. Dia menyebutkan kemungkinan menggunakan dana tersebut untuk mencapai pembangunan di negara-negara ASEAN.*
Laporan oleh Arief Maulana
