Hadapi Perubahan Iklim, Pertanian Harus Sinergikan Adaptasi dan Mitigasi

[unpad.ac.id, 29/8/2018] Perbahan iklim global yang terjadi saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi sektor pertanian dalam mencapai ketahanan pangan. Sektor ini diharapkan dapat ikut berkontribusi dalam menghadapi perubahan iklim, khususnya dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca.

disampaikan Kepala Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian Prof. Dedi Nursyamsi M.Agr. saat menjadi pembicara kunci mewakili Menteri Pertanian RI Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, MP., dalam acara “The Third International Conference on Sustainable Agriculture and Food Security: Innovation and Technology” di Bidakara Grand Savoy Homann Hotel,Bandung, Rabu (29/8). (Foto: Tedi Yusup)*

Hal tersebut disampaikan Kepala Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian Prof. Dedi Nursyamsi M.Agr. saat menjadi pembicara kunci mewakili Menteri Pertanian RI Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, MP., dalam acara “The Third International Conference on Sustainable Agriculture and Food Security: Innovation and Technology” di Bidakara Grand Savoy Homann Hotel,Bandung,  Rabu (29/8).

Prof. Dedi menjelaskan, sektor pertanian menjadi salah satu penyebab sekaligus korban dari adanya perubahan iklim. Dikatakan penyebab, pertanian menjadi salah satu sumber emisi gas rumah kaca yang diakibatkan dari pembukaan lahan, pertanian lahan gambut, aktivitas peternakan, dan sebagainya.

Di saat bersamaan, pertanian juga menjadi korban karena perubahan iklim dapat meningkatkan serangan hama dan penyakit, timbulnya banjir dan kekeringan, serta  adanya pengurangan lahan akibat penggenangan dan intrusi.

Untuk mengatasinya, Prof. Dedi mengungkapkan bahwa perlu ada sinergi antara adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

“Dengan tindakan yang disinergikan ini kita masih dapat meningkatkan produktivitas dan pada saat yang sama berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca,” ujarnya.

Kementerian Pertanian pun telah mengembangkan sejumlah inovasi teknologi sebagai langkah menghadapi perubahan iklim. Menurut Prof. Dedi kolaborasi dari berbagai pihak juga sangat diperlukan dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor pertanian.

“Kerja sama dapat kami dilakukan dengan perguruan tinggi atau dengan berbagai lembaga riset, untuk menghadirkan lebih banyak lagi inovasi dengan dampak yang lebih luas,” harapnya.

Konferensi internasional tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Riset, Pengabdian Pada Masyarakat, Kerja Sama, dan Korporasi Akademik Dr. Keri Lestari, S.Si., M.Si., Apt. Acara ini digelar atas kolaborasi empat fakultas agrokompleks di Unpad, yaitu Fakultas Peternakan, Fakultas Pertanian, Fakultas Teknologi Industri Pertanian, dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Dalam sambutannys, Dr. Keri berharap bahwa konferensi ini akan menghasilkan masukan bagi pemerintah dalam menghasilkan kebijakan. Berbagai inspirasi yang hadir dalam kegiatan ini pun diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat global.

Sementara itu, Dekan Fakultas Peternakan Unpad yang sekaligus bertindak sebagai Ketua Panitia  Prof. Dr. Ir. Husmy Yurmiati, M.S. mengungkapkan bahwa acara tersebut digelar sebagai sarana  berbagi ide, hasil penelitian, dan pengalaman di antara peneliti, akademisi, praktisi, dan profesional dari berbagai negara.

Selain itu, acara ini juga digelar untuk mengidentifikasi tantangan dan mencari strategi efektif untuk memperkuat pertanian dan ketahanan pangan yang berkelanjutan, serta untuk membangun jaringan di antara para pemangku kepentingan.

Seminar internasional ini diikuti oleh 194 peserta dengan diisi pembicara dari dalam dan luar negeri. Para pembicara tersebut adalah Prof. Abdul Razak Alimon dari Universiti Putra Malaysia, Prof. Hiroshi Ezura dari University of Tsukuba, Jepang ,Prof. Prof. Jiang Mingguo dari Guang Xie National University, Republik Rakyat China , dan Prof. Yrjo H. Roos, dari University College Cork, Irlandia.

Sementara dari Indonesia, sejumlah dosen Unpad hadir sebagai pembicara, yaitu Prof. Nurpilihan Bafdal dari Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Dr. Ronnie S. Natawidjaja dari Fakultas Pertanian, Dr. Asep Anang dari Fakultas Peternakan,  dan Dr. Zahidah Hasan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.*

Laporan oleh Artanti Hendriyana/am

Share this: