[unpad.ac.id, 26/3/2019] Duta Besar Kanada untuk Indonesia H.E Peter MacArthur mengajak sivitas akademika Universitas Padjadjaran untuk berperan aktif dalam mendukung kelancaran demokrasi di Indonesia. Hal itu ia sampaikan dalam Kuliah Umum “Diversity, Inclusion, and Democracy” di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad kampus Jatinangor, Selasa (26/3).

MacArthur mengatakan, Kanada dan Indonesia sama-sama memiliki masyarakat yang sangat beragam. Untuk mencapai keberhasilan dalam keberagaman, maka diperlukan masyarakat yang inklusif.
“Artinya, semua orang harus memiliki hak dan kesempatan sama terlepas dari gender, suku, agama atau yang lainnya,” ujar Peter MacArthur.
Menurutnya, masyarakat inklusif akan memberikan hasil lebih baik bagi semua kelompok masyarakat, termasuk kelompok mayoritas. Cara terbaik untuk menghasilkan masyarakat inklusif adalah mewujudkan demokrasi yang representatif.
“Dalam demokrasi yang benar-benar representatif, sangat penting bahwa setiap orang menggunakan hak suara mereka dan berpikir kritis untuk menentukan siapa yang akan dipilih,” tuturnya.
MacArthur pun mengajak mahasiswa untuk sebaik mungkin menggunakan hak pilih dalam pemilihan umum nanti. Menurutnya, satu suara dari masyarakat sangat berarti bagi masa depan bangsa. Hak pilih yang dimiliki pun merupakan tanggung jawab besar dari setiap individu, sehingga berpikir kritis sangat diperlukan.
“Suara Anda itu penting. Suara Anda akan membuat perbedaan,” ujar MacArthur.
MacArthur mencontohkan, ketika membuat keputusan mengenai keuangan, karier, atau pendidikan, seringkali menuntut kita untuk berpikir kritis. Tentu saja, berpikir kritis juga diperlukan ketika menentukan masa depan bangsa.
“Ingat, masa depan Indonesia berada dalam genggaman Anda,” ujarnya.
Dalam memilih kandidat, MacArthur juga menyarankan untuk sejenak mengesampingkan pengaruh media dan amati langsung permasalahannya. Hal yang perlu dilakukan seperti mengamati mengenai berbagai ujaran kebencian dan isu yang menimbulkan perpecahan, serta mempelajari lebih dalam mengenai apa yang diperjuangkan para kandidat.
Bahkan, perlu juga untuk berbicara dengan rekan yang mungkin berlainan pendapat untuk setidaknya mempelajari pandangan yang berbeda. “Anda tidak perlu setuju dengan pandangan mereka, tetapi Anda harus mempertimbangkannya,” kata MacArthur.
Sementara itu, Rektor Unpad Prof Tri Hanggono Achmad mengatakan bahwa kompleksitas dalam keberagaman adalah tantangan yang perlu dihadapi. Bukan hanya perbedaan ras dan agama, tantangan muncul di berbagai hal, termasuk mengenai keragaman program studi dan profesi. Keberagaman ini muncul semakin kompleks, seiring meningkatnya tantangan di era digital saat ini.
“Bagi generasi muda, keberagaman yang klasik seharusnya sudah bukan lagi masalah,” ujar Rektor.
Menurut Rektor, interdependensi seharusnya menjadi kata kunci untuk menjawab tantangan tersebut. Interdepedensi menjadi suatu hal yang perlu dimiliki melebihi kolaborasi.
“Interdepedensi adalah suatu keharusan, karena masing-masing dari kita sangat tergantung satu sama lain,” ujar Rektor.*
Laporan oleh Artanti Hendriyana/am



