Sejarawan Unpad: Tradisi Mengirimkan Hantaran saat Hari Raya Wujud Kerukunan Masyarakat Nusantara

hantaran
Direktorat Sumber Daya Manusia Universitas Padjadjaran memberikan bingkisan lebaran kepada seluruh tenaga kependidikan Unpad, Jumat (7/5). (Foto: Dadan Triawan)*
hantaran
Direktorat Sumber Daya Manusia Universitas Padjadjaran memberikan bingkisan lebaran kepada seluruh tenaga kependidikan Unpad, Jumat (7/5). (Foto: Dadan Triawan)*

[unpad.ac.id] Jelang Idulfitri, masyarakat Indonesia memiliki tradisi mengirimkan hantaran yang dikenal dengan sebutan parsel atau hamper kepada kerabat, handai tolan, tetangga, ataupun kepada yang membutuhkan.

Tidak sekadar wujud belas kasih, tradisi ini menjadi bagian dalam sejarah perjalanan panjang bangsa Indonesia.

Sejarawan kuliner Universitas Padjadjaran Fadly Rahman, M.A., mengemukakan, bila melihat dari sisi historis, tradisi mengirimkan hantaran dipengaruhi oleh dua masa kebudayaan, yaitu prakolonial serta kebudayaan kolonial.

“Tradisi ini memang khas menunjukkan kerukunan masyarakat agraris di Nusantara,” ujar Fadly, Selasa (11/5).

Di masa prakolonial, tradisi mengirimkan hantaran banyak dilakukan masyarakat pada hari yang memiliki momen khusus, seperti ketika hari raya panen hingga hari raya keagamaan. Hantaran diberikan kepada antar tetangga sebagai bentuk ekspresi raya syukur atas limpahan hasil pangan.

Tidak hanya antar tetangga, tradisi ini juga dilakukan masyarakat agraris kepada pihak kerajaan. Di hari raya, rakyat biasa mengirimkan upeti kepada kerajaan berupa makanan dan bahan pangan sebagai bentuk syukur kepada penguasa.

Fadly menuturkan, jenis makanan yang menjadi hantaran di masa prakolonial berupa kudapan tradisional, seperti rengginang, dodol, dan wajit yang beken di kalangan masyarakat lokal.

Seiring masa kolonial masuk, tradisi ini tetap dipertahankan oleh masyarakat, tetapi ada dinamika di dalamnya.

Fadly menjelaskan, dinamika terlihat dari wujud makanannya. Pada masa ini, kudapan yang berasal dari benua Eropa mulai menjadi hantaran selain kudapan lokal. Sebut saja jenis kue nastar, kastengel, hingga putri salju.

“Dulu kue-kue yang dibuat keluarga Eropa dijadikan hantaran antar kaum priyayi. Masyarakat Muslim kalangan priyayi pada masa lalu itu menerima hantaran dari orang Eropa,” paparnya.

Aneka kue kolonial tersebut tetap eksis menjadi kudapan khas hari raya hingga saat ini berkat resep yang diwariskan turun temurun.

Lebih lanjut Fadly menuturkan, makanan sangat identik dalam perayaan hari raya keagamaan. Pada zaman dahulu, sajian makanan pada hari raya keagamaan bersifat sakral.

“Baik Islam, Hindu, dan agama lokal memiliki tradisi yang menempatkan makana sebagai suatu makna simbolis dan sakral,” ujarnya.

Dikatakan sakral, makanan yang disajikan merupakan representasi simbolis dari kondisi geografis masa lalu. Saat itu, masyarakat Nusantara dikenal sebagai masyarakat agraris, sehingga makanan yang dibuat pun diambil dari bahan pangan yang ada.

Ia mencontohkan, tradisi ketupat pada hari raya Lebaran banyak dipengaruhi oleh kebudayaan agraris Nusantara. Tradisi ini mengadopsi tradisi masyarakat Hindu-Bali, di mana ketupat dibuat beras dan janur kelapa, dua bahan makanan yang identik dengan sumber pangan di Nusantara sata itu.

Selain itu, tradisi sajian makanan di hari raya atau momen akbar lainnya merupakan satu bentuk pengejawantahan terhadap rasa syukur masrakat atas karunia dari Yang Mahakuasa. Hal ini diperkuat dengan analisis yang sudah dilakukan para ahli sejarah sejak masa kolonial.

“Mereka (ahli sejarah) melihat bahwa budaya-budaya simbolis seperti tumpeng dan ketupat, memang warisan dari tradisi agraris di dalam budaya Hindu-Jawa sebagai bentuk manifestasi syukur terhadap Yang Mahakuasa,” jelasnya.

Fadly menyimpulkan, Lebaran maupun momen hari raya keagamaan di Indonesia juga berperan penting dalam menjaga pusaka kuliner warisan masa lalu. “Momen ini yang bisa membuat kuliner masa lalu bisa tetap bertahan dan disukai masyarakat kita,” tutupnya.*

Share this: