Pakar Unpad Proyeksikan Sektor Pangan, Ekologi, Kesehatan, dan TI di 2024

Para pakar Unpad menyampaikan pandangannnya mengenai proyeksi 2024 di Satu Jam Berbincang Ilmu (Sajabi) yang digelar di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Rabu (20/12/2023).*

[Kanal Media Unpad] Empat pakar Universitas Padjadjaran menyampaikan pandangannya mengenai pangan, ekologi, kesehatan, dan teknologi informasi di tahun 2024. Pandangan ini disampaikan dalam acara Satu Jam Berbincang Ilmu (Sajabi) yang digelar di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Rabu (20/12/2023).

Padangan mengenai sektor pangan dan pertanian disampaikan Guru Besar Fakultas Pertanian Unpad Prof. Tualar Simarnata. Dalam kesempatan tersebut, ia mengatakan pentingnya inovasi dan teknologi pertanian dalam mewujudkan kedaulatan pangan.

Dikatakan Prof. Tualar, kenaikan jumlah penduduk membuat kebutuhan pangan juga meningkat. Namun, penyusutan lahan pertanian terus terjadi dan pemenuhan pangan masih tergantung pada impor. Jika ini terus terjadi, akan menjadi masalah, padahal Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah yang berpotensi menjadikan Indonesia menjadi lumbung pangan.

“Dengan inovasi kita wujudkan mimpi Indonesia sebagai lumbung pangan,” kata Prof. Tualar.

Menurutnya, saat ini di sektor pertanian Indonesia lebih banyak bekerja berbasis otot, bukan bekerja otak atau kecerdasan menghasilkan inovasi. Hal ini juga yang menyebabkan produktivitas tidak tinggi.

“Seharusnya kita mulai beralih, dari bekerja otot ke bekerja dengan otak, innovation,” ujarnya.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Teknologi dan Industri Pertanian (FTIP) Unpad Prof. Chay Asdak mengatakan bahwa bencana hidrometeorologi akan tetap menjadi tantangan di 2024 apabila perubahan iklim masih menjadi persoalan dunia dan pengelolaan DAS tidak mengalami perubahan signifikan. Hal yang penting dilakukan adalah cara menghadapinya, yaitu dengan meminimalisir jumlah kerugian.

“Sehingga dengan demikian ke depan, harapan kerja sinergis multipihak menjadi keharusan,”  kata Prof. Chay.

Selain itu, imbal jasa dan nature-based solution akan menjadi tren penyelamat ekologi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara berkelanjutan, serta efektif secara biaya. Pendekatan fungsional dan perlindungan ekosistem esensial juga akan menjawab tantangan lingkungan hidup ke depan bila disertai literasi ekologi dan pendampingan publik yang efektif.

Untuk mendukung kebijakan pemerintah yang pro lingkungan, Prof. Chay juga menilai pentingnya para akademisi memaparkan hasil risetnya terkait lingkungan.

“Sebagai masyarakat akademis saya kira kita perlu lebih memaparkan hasil-hasil riset, sehingga dengan demikian pada setiap level dari pusat sampai daerah, utamanya pemerintah itu bisa mendasarkan kebijakannya pada hasil-hasil riset,” ujar Prof. Chay.

Di bidang kesehatan, Guru Besar Fakultas Kedokteran Unpad Prof. Deni Kurniadi Sunjaya mengatakan bahwa sistem kesehatan menjadi hilir dari permasalahan kesehatan di Indonesia, di mana berbagai faktor seperti lingkungan dan pangan juga memiliki pengaruh.

“Sistem kesehatan itu hanya 30 persen bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan,” ujar Prof. Deni.

Di tahun 2024 pun ada sejumlah permasalahan kesehatan yang perlu diwaspadai. Prof. Deni menilai, transformasi sistem kesehatan di Indonesia perlu mengidentifikasi permasalahan dengan baik agar lebih mudah mengintervensinya.

Berbicara Covid-19, Prof. Deni mengingatkan mengenai pentingnya kesadaran mengingat virus ini masih ada dan kita tidak tahu sejauh mana kerentanan kita. “Awareness terhadap Covid-19 perlu terus dilakukan,” ujar Prof. Deni.

Mengenai teknologi, Guru Besar FMIPA Unpad Prof. Yudi Rosandi mengatakan bahwa teknologi informasi tidak terlepas dari infrastuktur. Tahun 2024, hal yang perlu disoroti adalah adanya perkembangan machine learning dan kecerdasan buatan, IoT dan edge computing, data science, serta kriptografi dan keamanan siber.

Prof. Yudi juga mengatakan bahwa perkembangan teknologi sangat berkaitan dengan riset material. “Kalau misalnya riset material itu berhenti, berhenti juga perkembangannya,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Yudi pun mengingatkan bahwa teknologi hadir untuk melayani manusia, bukan mengontrol manusia. “Kita harus melihat bahwa teknologi itu jangan ngariweuhkeun (menyusahkan), tetapi kita buat teknologi itu justru untuk menolong,” ujar Prof. Yudi. (arm)*

Share this: