Dengan Strategi Tepat, Digitalisasi Mampu Tingkatkan Nilai Tambah Usaha Mikro Kecil

Prof. Dr. dra. Erna Maulina, M.Si. (Foto: Dadan Triawan)*

Laporan oleh Arif Maulana dan Ismail Cahya Putra

[Kanal Media Unpad] Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Prof. Dr. dra. Erna Maulina, M.Si., mengatakan, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini sudah makin canggih. Hal ini menuntut semua organisasi, termasuk usaha mikro kecil untuk berubah dan mengadaptasi perkembangan lingkungan strategis.

Demikian disampaikan Prof. Erna saat menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Digitalisasi Usaha Mikro-Kecil di Indonesia”, dalam Upacara Pengukuhan dan Orasi Ilmiah Jabatan Guru Besar yang dilaksanakan di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Selasa (23/1/2024).

Prof. Erna memaparkan, adopsi teknologi informasi dan komunikasi di dunia usaha makin meningkat seiring berkembangnya perusahaan digital platform komersial maupun media sosial. Kendati demikian, pemanfaatan TIK oleh pelaku usaha mikro-kecil dinilai masih rendah.

Mengacu pada data Sensus Ekonomi Indonesia, pemanfaatan internet oleh pelaku usaha mikro kecil masih berkisar 9,76 persen. Dari jumlah tersebut, 67,7 persen dimanfaatkan oleh sektor profesional, ilmiah, dan teknis.

“Justru sektor-sektor yang jumlah UMK-nya sangat banyak yaitu Sektor Perdagangan dan reparasi, Sektor Industri Pengolahan, dan Sektor Penyediaan Akomodasi, Makanan-Minuman tingkat penggunaan internetnya sangat rendah. Karena tampak bahwa sebagian besar UMK belum mengakses internet dan belum cukup masuk ke dalam dunia digital,” papar Prof. Erna.

Butuh Strategi Tepat

Guru Besar Bidang Ilmu Strategi Bisnis UMKM tersebut menjelaskan, kemajuan dan konvergensi teknologi digital mengubah ekosistem dan bermata ganda terhadap usaha mikro-kecil dalam bentuk potensi peluang benefit sekaligus ancaman risikonya.

Di satu sisi, teknologi digital membuka akses pasar lebih luas. Akan tetapi, teknologi tersebut juga meningkatkan kompetisi dan berpotensi menciptakan ketidakpastian bagi usaha mikro kecil itu sendiri.

Karena itu, pelaku usaha mikro kecil dalam menghadapi arus digitalisasi membutuhkan strategi individual maupun ekosistem. Salah satu yang bisa dilakukan adalah kolaborasi Pentahelix.

Dalam konteks Jawa Barat, dukungan Pentahelix ada dalam model ABCGM yang mencakup peran Academician, Business, Community, Government, dan Media. Dalam praktiknya, peran-peran ABCGM ini membantu dalam hilirisasi riset, kolaborasi, membangun jejaring, mendukung penyediaan infrastruktur, dan diseminasi informasi demi mendorong kemajuan.

“Model ABCGM, atau Pentahelix, ini beserta kelemahannya dapat direplikasi, disesuaikan, dan dikembangkan di tempat lain,” ujar Prof. Erna. (arm)*

Share this: