[Kanal Media Unpad] Mahasiswa Program Studi Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Kujang menjadi salah satu peserta program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) Batch 3 di Universitas Andalas, Sumatera Barat. Di sana, Kujang berkesempatan melakukan studi lapangan di Desa Muntei, Siberut Selatan, Kabupaten Mentawai.
Dalam rilis yang diterima Kanal Media Unpad, mahasiswa yang akrab disapa Ujang ini mengambil mata kuliah Etnografi Mentawai di Prodi Antropologi Sosial FISIP Unand. Ia bergabung dengan lima mahasiswa PMM lainnya dan 20 mahasiswa Unand.
“Karena mata kuliah Etnografi Mentawai ini merupakan kuliah pilihan berpraktik, maka mahasiswa dibawa untuk melihat langsung praktik-praktik budaya Mentawai dalam hidup keseharian mereka,” ujarnya.
Studi lapangan sendiri digelar pada 3 – 12 November 2023 lalu. Ujang memaparkan, desa ini merupakan salah satu gerbang masuk wisatawan ke wilayah Siberut Selatan, Mentawai. Di desa ini masih sangat kental dengan aktivitas adat dan tradisi.
Selain itu, Desa Muntei juga merupakan salah satu Desa dengan kategori Desa Wisata dengan Wisata edukasi Tato Mentawai yang diunggulkan. Wilayah ini termasuk dalam kategori desa wisata terbaik di Sumatera Barat dari 75 desa wisata se-Indonesia yang diumumkan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno, dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023.
Ujang menjelaskan, di sana mahasiswa melakukan penelitian lapangan, mengamati, mendeskripsikan, dan menganalisis hubungan penggunaan abag (sampan yang terbuat dari kayu besar) dengan aspek-aspek lain dalam kehidupan masyarakat yang ada di Desa Muntei.
Abag dapat dikatakan menjadi ikon produk wisata bahari di desatersebut. Selain itu, abag juga digunakan sebagai alat transportasi masyarakat Mentawai dalam berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari, baik untuk membawa hasil ladang dan hutan, juga untuk melakukan aktivitas adat, seperti untuk menghadiri pesta perkawinan di kampung-kampung lain, pesta perdamaian (paabad).
“Itu menunjukkan kalau Abag memiliki fungsi yang sangat penting bagi masyarakat Mentawai. Di dalam proses pembuatan dan penggunaan Abag ini juga terkandung nilai-nilai budaya lokal yang perlu dijaga kelestariannya,” kata Ujang.
Dosen Pembimbing Lapangan kelompok studi Dr. Maskota Delfi, M.Hum., memberikan kebebasan berkreasi bagi mahasiswa. Mereka disilakan membaur terlebih dahulu dengan masyarakat setempat sehingga masyarakat dapat memberikan peluang kepada mahasiswa untuk menggali lebih dalam nilai-nilai budaya di Mentawai.
“Adapun yang menjadi salah satu tugas mahasiswa adalah melihat langsung penggunaan abag dalam kehidupan masyarakat Mentawai serta membuat laporan penelitian yang akan di peresentasikan dan dipamerkan terkait eksistensi Abag dalam kehidupan tradisi, adat, dan ritual yang dilakukan oleh Masyarakat Mentawai, khususnya di Desa Muntei,” pungkas Ujang. (rilis)*
