[Kanal Media Unpad] Luas lahan pertanian Indonesia mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Setidaknya, ada tiga penyebab kondisi tersebut terjadi, yaitu alih fungsi lahan, banyaknya lahan marginal yang belum dimanfaatkan secara maksimal, serta kerusakan lahan akibat aktivitas industri pertambangan dan migas.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Pujawati Suryatmana, M.P., menjelaskan, lahan marginal di Indonesia sendiri tersebar luas di beberapa kepulauan, seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Sementara menurut data Bappenas RI, ada 496 ribu hektar lahan di Indonesia yang terkontaminasi limbah hasil pertambangan.
“Perbaikan lahan marginal dan lahan-lahan yang rusak merupakan suatu keniscayaan yang perlu kita lakukan sebagai upaya untuk meningkatkan luas lahan untuk pertanian,” ujar Prof. Pujawati saat membacakan orasi ilmiahnya dalam Upacara Pengukuhan dan Orasi Ilmiah Jabatan Guru Besar bidang Mikrobiologi yang digelar di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Selasa (28/5/2024).
Pada upacara tersebut, Prof. Pujawati membacakan orasi ilmiah berjudul “Eksplorasi Mikroba Berfungsi Ganda (Double Function microbes) dan Perannya dalam Meningkatkan Produktivitas Lahan Marginal serta Rehabilitas Lahan Terkontaminasi Limbah Toksik”.

Prof. Pujawati memaparkan, upaya perbaikan lahan marginal dan tanah rusak dapat dilakukan dengan memperbaiki sifat tanah itu sendiri. Salah satu alternatif untuk meningkatkan kesehatan tanah dan rehabilitasi tanah terkontaminasi adalah pemanfaatan mikroba tanah fungsional.
Mikroba tanah fungsional untuk bidang pertanian ini telah banyak ditemukan dan dikembangkan dalam skala laboratorium maupun diproduksi dalam skala industri. Penelitian yang dilakukan melalui eksplorasi beberapa spesies mikroba tanah fungsional berhasil diisolasi dan dikembangkan menajdi mikroba yang berfungsi ganda.
Prof. Pujawati mengatakan, proses ini berhasil memperoleh isolat dengan karakteristik potensial. “Selain dapat berperan sebagai mikroba pemacu tumbuh tanaman juga berperan sebagai agen bioremediasi dan fitoremediasi,” jelasnya.
Dari peran ganda tersebut, mikroba tidak hanya memacu pertumbuhan tanaman. Melalui pelacakan metabolisme tersebyt, mikroba ini dapat berperan ganda sebagai agen bioremediasi dan fitoremediasi limbah minyak bumi yang efektif.
“Secara signifikan efisiensi biodegradasi hidrokarbon yang diurai dapat mencapai 97,8 %, menurunkan toksisitas dan menghasilkan tanah yang sehat dan dapat digunakan sebagai media pertumbuhan tanaman secara normal,” kata Prof. Pujawati.*
