[Kanal Media Unpad] Populasi ikan gabus menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan 2022 menunjukkan penurunan sebesar 15.98 persen. Produksi yang terus menurun dikhawatirkan merusak ekologi dan populasi dari ikan gabus tersebut.
Lambatnya pertumbuhan yang dimiliki ikan gabus serta proses domestikasi yang cukup rumit menjadi salah satu penyebab masyarakat kurang berminat untuk membudidayakan ikan gabus.
Hal ini mendorong sejumlah mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran melakukan inovasi pertumbuhan ikan gabus menggunakan metode pemijahan buatan.
Mahasiswa tersebut, yaitu Muhamad Guntur Masyal, Muhamad Rheno Arifat, Firli Aulia Rohmah, Bagus Susilo, dan Putri Berlianita Sudarto, dengan dosen pembimbing Irfan Zidni, M.P., PhD. Mahasiswa tersebut tergabung dalam kempok Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Eksakta (PKM-RE) “Striataxmicropeltes” yang berhasil mendapatkan pendanaan dari Ditjen Dikti Kemendikbudristek RI.

Dalam rilis yang diterima Kanal Media Unpad, inovasi tersebut didasarkan atas kondisi yang selama ini ditemukan di masyarakat. Pada umumnya, pelaku budi daya ikan gabus di Indonesia menggunakan metode alami dan semi buatan dalam memijahkan ikan gabus.
Teknik pemijahan buatan pada salah satu jenis ikan genus Channa ini menjadi suatu temuan baru, mengingat belum ditemukannya hasil penelitian yang menyatakan bahwa ikan gabus dapat dipijahkan secara buatan.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kawasan Perikanan Darat Ciparanje FPIK Unpad selama tiga bulan, yaitu bulan Mei hingga Juli 2024.
Riset ini membuktikan bahwa ikan gabus (Channa stiata) dapat dipijahkan dengan metode buatan. Prosedur pertama pemijahan buatan dalam penelitian ini adalah seleksi indukan yang telah matang gonad. Setelah itu diinjeksi dengan hormon gonadotropin sintetik (ovapim) dengan dosis 0,4 ml/kg untuk indukan jantan dan 0,6 ml/kg untuk indukan betina dengan pengenceran 1:1 menggunakan NaCl Fisiologis guna mempercepat ovulasi pada indukan ikan.
Pemijahan ikan dilakukan setelah 12 jam penyuntikan hormon, pengeluaran telur dilakukan dengan metode stripping, dan pengeluaran sperma dilakukan dengan pembedahan gonad.Telur-telur yang telah difertilisasi dengan sperma dibilas dengan air bersih dan dimasukkan ke akuarium dengan kisaran suhu 28-30℃.
Selama penelitian dilakukan, pihak dari pengelola Laboratorium Ciparanje sangat terbuka dalam memberikan fasilitas dan bantuan kepada Tim PKM-RE.
“Teknik pemijahan buatan sangat sulit dilakukan dan tidak bisa untuk semua spesies ikan, harapannya dengan ada inovasi terbaru ini dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan nasional. Dengan teknik pemijahan buatan yang lebih efisien, kami optimis produksi ikan gabus akan meningkat, membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” kata Guntur. (arm)*
