Modifikasi Material Keramik dan Biokeramik Jadi Bahan Fungsional

Prof. Dr. Atiek Rostika Noviyanti, M.Si. (Foto: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Atiek Rostika Noviyanti, M.Si., mengatakan bahwa ketidaksempurnaan dalam proses modifikasi padatan keramik mengubah fungsinya dari sekadar benda tembikar sederhana menjadi keramik fungsional yang lebih kompleks dan bermanfaat.

“Modifikasi berkaitan dengan proses sintesis, struktur, komposisi, ikatan, serta kinerjanya,” jelas Prof. Atiek.

Hal tersebut disampaikan Prof. Atiek saat membacakan orasi ilmiah berkenaan dengan Upacara Pengukuhan dan Orasi Ilmiah Jabatan Guru Besar dalam bidang Ilmu Kimia Anorganik pada FMIPA Unpad dengan judul “Modifikasi dan Fungsionalisasi Keramik dan Biokeramik pada Bidang Energi, Kesehatan, dan Lingkungan”. Acara diselenggarakan di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Bandung, Rabu (24/7/2024).

Prof. Atiek melakukan penelitian terkait modifikasi elektrolit keramik sebagai komponen alat sel bahan bakar padatan. Hasil dari penelitian tersebut sudah dipublikasikan dalam jurnal internasional dan nasional.

Sebelumnya, Prof. Atiek telah melakukan penelitian terkait biokeramik dengan menggunakan limbah cangkang telur. Cangkang telur merupakan sumber kalsium untuk preparasi hidroksiapatit yang banyak dimanfaatkan dalam bidang biomedis.

“Kelompok riset kami telah berhasil memodifikasi hidroksiapatit untuk aplikasi material gigi,” imbuh Prof. Atiek.

Lebih lanjut, Prof. Atiek dan tim juga berhasil memanfaatkan sifat kapasitas pemuatan dan kemampuan pengendalian pelepasan yang baik dari nanorods-hidroksiapatit sebagai material penghantaran obat.

Nanorods-hidroksiapatit telah teruji bersifat antitoksik dan memiliki kemampuan pemuatan, pelepasan dan akumulasi ibuprofen dengan baik,” jelas Prof. Atiek.

Penelitian yang dilakukan oleh Prof. Atiek dan tim berhasil dibiayai oleh Hibah Penelitian Disertasi Doktor dengan luaran berupa publikasi internasional.

Selanjutnya, Prof. Atiek dan tim mengkaji mengenai modifikasi hidroksiapatit sebagai separator pada baterai ion litium. Penelitian tersebut mendapat pendanaan dari Hibah Penelitian Fundamental Regular dan Hibah Riset Kolaborasi Indonesia yang tergabung dengan tema “Pengembangan Mineral Kristis dan Material Baku Silika Alam untuk Industri yang Berkelanjutan”.

Selain itu, Prof. Atiek juga melakukan penelitian terhadap aplikasi hidroksiapatatit untuk biosensor. “Modifikasi hidroksiapatit dengan lantanum stronsium cobalt ferit telah berhasil disintesis dan teruji sangat sensitif sebagai sensor SARS-CoV-2,” ungkap Prof. Atiek.

Penelitian ini mendapat pendanaan dari Hibah Travel Award Unpad tahun 2024. Hasil dari penelitian tersebut kemudian dipresentasikan pada International Conference on Bio-Sensing Technology di Sevilla, Spanyol pada bulan Mei 2024.

Di bidang lingkungan, modifikasi nano-hidroksiapatit dilakukan oleh Prof. Atiek dengan menggunakan kaolin dan karbon aktif sebagai pupuk lepas lambat dan telah berhasil melalui proses sintesis.

“Penambahan kaolin dan karbon aktif terbukti mengurangi kehilangan unsur hara, menyimpan nutrisi lebih lama, mengurangi frekuensi pemberian pupuk, dan mengurangi pencemaran lingkungan,” jelas Prof. Atiek.

Prof. Atiek dan tim berhasil meneliti kemampuan pemuatan nano-hidroksiapatit terhadap rizobakteri, salah satunya adalah sebagai peningkat gula tanaman seperti tanaman stevia, sorgum, dan tebu. Penelitian ini juga mendapat dana dari Hibah Riset Inovasi Indonesia Maju (RIIM). Hasil dari preparasi komposit pada penelitian tersebut juga sudah didaftarkan patennya.

Penelitian terakhir yang sedang dikembangkan oleh Prof. Atiek dan tim ialah alat pemanen air atmosfer menggunakan adsorben hidroksiapatit yang diekstraksi dari limbah tulang ikan pengrajin kerupuk ikan di Samarinda, Kalimantan Timur. Penyempurnaan desain dan peningkatan kinerja alat masih dikembangkan menggunakan pendanaan Hibah Penelitian Disertasi Doktor 2023- 2024.

“Alat ini dapat menjadi solusi untuk memperoleh air dari atmosfer terutama untuk daerah yang kesulitan air bersih,” ujar Prof. Atiek.

Berdasarkan penelitian-penelitian terkait modifikasi dan fungsionalisasi keramik dan biokeramik yang telah dilakukan oleh Prof. Atiek, ditemukan bahwa material keramik memiliki banyak keunggulan, tetapi juga memiliki sifat yang rapuh. Tantangan yang terus dilakukan adalah mempertahankan sifat-sifat menguntungkan dan meminimalisasi kelemahannya.

“(Diperlukan) Kolaborasi antara ilmuwan ilmu dasar, ilmu terapan, dan industri untuk mempercepat transfer teknologi dari penelitian tingkat laboratorium, hingga ke arah komersial,” harap Prof. Atiek. (arm)*

Share this: