[Kanal Media Unpad] Empat Guru Besar Fakultas Kedokteran dan dua Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran menyampaikan orasi ilmiah berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar yang diselenggarakan di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jl. Dipati Ukur 35 Bandung pada Kamis, 20 Februari 2025.
Enam Guru Besar tersebut adalah Prof. Dr. Agnes Rengga Indrati., dr., Sp.PK., Subsp.I.K.(K), Subsp.P.I.(K), Mkes., Prof. Dr. Kiki Lukman dr. M.Sc., Sp.B SubspBD(K)., FCSI, FAMS (Sing)., Prof. Dr. dr. Suwarman, SpAn-TI, SubSp.TI(K), SubSp.MN(K), M.Kes., dan Prof. Dr. Uni Gamayani, dr. Sp.N, Subsp.Ped(K)., dari Fakultas Kedokteran serta Prof. Endah Yulia, S.P., M.Sc., Ph.D., dan Prof. Dr. Ir. Ceppy Nasahi, MS., dari Fakultas Pertanian
Orasi ilmiah dapat disaksikan kembali di tautan YouTube ini: sesi pertama dari Fakultas Kedokteran dan sesi kedua Fakultas Pertanian.





Prof. Dr. Agnes Rengga Indrati., dr., Sp.PK., Subsp.I.K.(K), Subsp.P.I.(K), Mkes.
Guru Besar Bidang Ilmu Imunologi Klinis Prof. Agnes Rengga Indrati menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Inovasi Teknologi Diagnostik berbasis Imunologi untuk Penyakit Infeksi: Dari Prinsip Dasar hingga Aplikasi Klinis”.
Prof. Agnes menyampaikan bahwa laboratorium memegang peranan penting dalam tata laksana penyakit infeksi, yaitu dalam aspek diagnosis, pemantauan penyakit, hingga efektivitas terapi. Namun, keterbatasan fasilitas dan sumber daya di banyak daerah menghambat akses masyarakat terhadap tes diagnostik secara optimal.
“Metode immunoassay dengan berbagai format memainkan peran penting dalam diagnosis penyakit infeksi. Metode ini membantu dalam deteksi dini infeksi, memantau efektivitas pengobatan, serta dalam surveillance,” ujar Prof. Agnes.
Prof. Agnes menjelaskan bahwa beberapa keunggulan dari penggunaan metode immunoassay antara lain adalah kapasitas pemeriksaan yang tinggi, hasil pemeriksaan kuantitatif, memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi, serta pengerjaan yang cepat dan mudah. Namun, terdapat beberapa keterbatasan dari metode ini, yaitu tidak semua infeksi dapat dideteksi dengan mudah, biaya dan aksesibilitas, serta variabilitas respons individu.
Lebih lanjut, Prof. Agnes mengatakan sangat dibutuhkan riset dan inovasi di bidang diagnostik, termasuk pengembangan biomarker yang lebih efisien dan metode pengujian yang dapat diakses oleh lapisan masyarakat, serta kolaborasi antara teknologi, ilmu kedokteran, dan kebijakan kesehatan yang lebih baik sebagai kunci untuk mengatasi tantangan penyakit infeksi di masa depan.
Prof. Dr. Kiki Lukman dr. M.Sc., Sp.B SubspBD(K)., FCSI, FAMS (Sing).
Guru Besar Bidang Ilmu Bedah Digestif Prof. Kiki Lukman menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Strategi Pencegahan, Skrining dan Manajemen Karsinoma Kolorektal Awitan Dini di Indonesia”. Prof. Kiki menjelaskan bahwa 27,6 – 54,5% insiden karsina kolorektal di Indonesia merupakan pasien dengan rentang usia di bawah 50 tahun atau KKR awitan dini. Hal tersebut menjadi ancaman bagi Visi Indonesia Emas 2045 karena populasi ini akan menjadi beban secara finansial yang besar, menurunkan kapasitas kerja, produktivitas ekonomi, hingga stabilitas politik.
Faktor risiko KKR terdiri dari faktor-faktor yang tidak dapat dimodifikasi, yaitu faktor yang bersifat diturunkan, faktor usia terutama di atas 50 tahun, poliposis herediter, dan inflamatori disease yang kronis, serta faktor yang dapat dimodifikasi, yaitu obesitas pada usia muda, pola diet yang tinggi lemak dan tinggi protein, konsumsi alkohol, merokok, serta aktivitas fisik yang rendah.
Prof. Kiki menyampaikan bahwa karsina kolorektal awitan dini harus menjadi perhatian dengan melakukan pencegahan dini, screening dini, pembedahan sesuai stadium dan lokasi, dan terapi sistemik yang terpersonalisasi, serta konseling genetik dan screening kepada anggota keluarga yang beresiko.
“Sebagai rekomendasi strategi yang diusulkan adalah modifikasi gaya hidup, terutama diet, olahraga rutin, hindari rokok dan alkohol. Lakukan edukasi dan kesadaran dini pada publik, jadikan masalah ini menjadi kurikulum dengan memperkenalkan juga kantin sehat. Selanjutnya adalah screening deteksi dini secara nasional, terutama populasi 40 tahun bisa dijadikan sebagai starting point dan individu yang berisiko dilakukan konseling genetik dan monitoring, kebijakan pemerintah untuk mempromosikan olahraga dan hindari zat-zat kasinogenik,” jelas Prof. Kiki.
Prof. Dr. dr. Suwarman, SpAn-TI, SubSp.TI(K), SubSp.MN(K), M.Kes.
Guru Besar Bidang Ilmu Anestesiologi dan Terapi Intensif Prof. Suwarman menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Evolusi Anestesiologi dan Optimalisasi Penanganan Nyeri Pascaoperasi: Pendekatan Holistik Menuju Pemulihan Pasien yang Lebih Baik”.
Prof. Suwarman mengatakan bahwa tantangan manajemen diri pasca-operasi di Indonesia masih menghadapi tantangan, yaitu terkait dengan keterbatasan akses analgesik seperti opioid dan stigma masyarakat, serta kurangnya edukasi tentang pentingnya kontrol nyeri. Nyeri pasca-operasi yang tidak terkelola dapat meningkatkan lama rawat inap, memicu komplikasi fisiologis, dan berisiko berkembang menjadi nyeri kronis.
Nyeri pasca-operasi merupakan tantangan utama pembedahan yang intensitasnya bervariasi berdasarkan jenis pembedahan, teknik anestesi, serta karakter pasien itu sendiri. Masa depan manajemen nyeri pasca-operasi mengarah kepada inovasi seperti pengembangan opioid selektif dengan risiko ketergantungan lebih rendah, modulator nyeri sentra, pendekatan farmakogenomik untuk individualisasi terapi, dan aplikasi nanoteknologi dalam penghantaran obat yang lebih presisi.
“Perkembangan ilmu anestesiologi dan terapi intensif merupakan komitmen untuk terus meningkatkan standar pelayanan kesehatan, terutama dalam manajemen nyeri dan perawatan intensif. Tantangan di bidang ini terus berkembang menuntut inovasi, kolaborasi, dan dedikasi yang lebih besar dari kita semua, baik sebagai akademisi, praktisi, maupun peneliti. Ke depan mari kita terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan penerapannya demi kesehatan masyarakat yang lebih baik,” kata Prof. Suwarman.
Prof. Dr. Uni Gamayani, dr. Sp.N, Subsp.Ped(K).
Guru Besar Bidang Ilmu Neurologi menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Diagnosis dini dan tatalaksana berkelanjutan Palsi Serebral, untuk masa depan yang lebih baik”. Prof. Uni menjelaskan bahwa palsi serebral adalah kelompok gangguan perkembangan motorik pada anak yang menyebabkan aktivitas yang terbatas, bersifat non-progresif dan terjadi pada otak yang sedang berkembang, serta merupakan penyebab terbanyak disabilitas pada anak.
Prof. Uni menyampaikan bahwa diagnosis dini menjadi penting agar perbaikan menjadi lebih baik. Namun, rekomendasi diagnosis dini sebelum usia 2 tahun yang dilakukan di negara maju masih terkendala dengan kemampuan para tenaga medis yang belum merata dan juga kersediaan alat pemeriksaan penunjang yang ada di Indonesia.
“Intervensi yang bisa dilakukan jika diagnosis sudah tegak adalah dilakukan dini untuk memaksimalkan neuroplastisitas otak terintegrasi dan sesuai dengan kebutuhan penderita. Dapat dilakukan terapi fisik, terapi bicara, okupasi, pembedahan, maupun perilaku,” ujar Prof. Uni.
Lebih lanjut, Prof. Uni mengatakan bahwa capaian penurunan kematian bayi, balita, dan neonatal diharapkan dapat juga disertai dengan kualitas anak yang utuh. Namun, aksesibilitas yang terbatas dan biaya intervensi yang tinggi pada deteksi dini masih menjadi kendala. Kemajuan teknologi medis dan neurorestorasi menjadi harapan baru untuk meningkatkan kualitas hidup palsi serebral.



Prof. Endah Yulia, S.P., M.Sc., Ph.D.
Guru Besar Bidang Bidang Ilmu Pestisida Nabati Penyakit Tanaman Prof. Endah Yulia menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Pestisida Nabati sebagai Solusi Ramah Lingkungan dalam Mengendalikan Penyakit Tanaman untuk Pertanian Berkelanjutan”. Prof. Endah memaparkan bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam ketahanan pangan dan ekonomi berkelanjutan. Salah satu tantangan krusial dalam menjaga ketahanan pangan dunia adalah perlindungan tanaman dari penyakit yang dapat merusak hasil pertanian.
Penggunaan pestisida kimia yang telah menjadi solusi utama selama ini mulai mendapat sorotan karena dampak negatifnya terhadap lingkungan, kesehatan manusia, dan keanekaragaman hayati. Dalam upaya mencapai pertanian berkelanjutan, inovasi ramah lingkungan menjadi kunci untuk mengatasi permasalahan ini tanpa mengorbankan keberlanjutan ekosistem.
“Pestisida nabati merupakan alternatif rambah lingkungan dalam pertanian berkelanjutan. Senyawa aktifnya yang berasal dari tumbuhan ini berfungsi sebagai penghambat pertumbuhan patogen” jelas Prof. Endah.
Prof. Endah menegaskan bahwa inovasi dalam penggunaan pestisida nabati dapat memberikan kontribusi besar dalam mencapai pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan. Dengan pendekatan yang berbasis pada prinsip ekologi, pestisida nabati tidak hanya berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan kimia, tetapi juga dapat meningkatkan keberlanjutan sistem pertanian secara keseluruhan.
Untuk menjadikan pestisida nabati sebagai bagian integral dari pertanian berkelanjutan, diperlukan strategi yang mencakup penelitian dan pengembangan guna mengidentifikasi tumbuhan lokal dengan potensi bioaktif tinggi, edukasi kepada petani tentang cara penggunaan pestisida nabati, serta kebijakan yang mendukung adopsi produk alami tersebut. Kolaborasi yang sinergis antara peneliti, petani, pemerintah, dan institusi pendidikan sangat penting untuk memastikan pestisida nabati dapat diimplementasikan secara luas, mewujudkan pertanian yang produktif dan ramah lingkungan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di masa depan.
Prof. Dr. Ir. Ceppy Nasahi, MS.
Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit Pasca Panen Prof. Ceppy Nasahi menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Menekan Kehilangan Hasil Panen dengan Optimalisasi Penanganan dan Pengendalian Penyakit Pasca Panen”.
Prof. Ceppy menjelaskan bahwa penyakit pascapanen menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan hasil panen, menyebabkan kerugian sepanjang rantai pasokan pangan, mulai dari penanganan, penyimpanan, transportasi, hingga pengolahan. Oleh karena itu, manajemen panen yang cermat dapat mengurangi kerugian pascapanen dan menjaga kualitas produk pertanian.
Secara umum, pengendalian penyakit pascapanen mengandalkan fungisida. Namun, meningkatnya kekhawatiran terhadap resistensi kimia dan dampak lingkungan mendorong penelitian lebih lanjut terhadap ekstrak tanaman, limbah pertanian, dan agen biologis sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan. Beberapa metode ramah lingkungan yang dikembangkan mencakup penggunaan senyawa alami, agen pengendalian hayati, dan teknologi inovatif untuk menekan penyakit pascapanen sekaligus menjaga keamanan pangan.
“Penggunaan pestisida ramah lingkungan dan agen biologis semakin dibutuhkan seiring dengan kesadaran terhadap dampak negatif pestisida sintetis. Metode alternatif seperti ekstrak tanaman, khamir, dan asap cair dari limbah pertanian terbukti efektif dalam mengendalikan penyakit pascapanen dan mengurangi ketergantungan pada fungisida sintetis, mendukung pertanian ramah lingkungan dan keberlanjutan pangan,” ungkap Prof. Ceppy.*
