Universitas Padjadjaran Kukuhkan Delapan Guru Besar Baru dari Fakultas Pertanian

Pengukuhan Delapan Guru Besar baru dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran yang diselenggarakan di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jl. Dipati Ukur 35 Bandung pada Kamis, 31 Juli 2025. (Foto oleh: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Universitas Padjadjaran mengukuhkan delapan Guru Besar dari Fakultas Pertanian dalam Pengukuhan Jabatan Guru Besar Unpad yang berlangsung di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung pada Kamis, 31 Juli 2025. Pengukuhan dibuka oleh Rektor Unpad Prof. Arief S. Kartasasmita, kata pengantar oleh Ketua Senat Akademik Unpad, Prof. Ganjar Kurnia, serta diisi dengan pemaparan keilmuan dari masing-masing Guru Besar.

Delapan Guru Besar tersebut adalah Prof. Dr. Eliana Wulandari, SP., M.M., Prof. Ir. Anas , M.Sc., Ph.D., Prof. Dr. Ir. Cucu Suherman Victor Zar, M.Si., Prof. Dr. Iwan Setiawan, S.P., M.Si., Prof. Dr. Rija Sudirja, S.P.,M.T., Prof. Dr. Ir. Tuti Karyani, M.SP., Prof. Yusup Hidayat, S.P., M.Phil., Ph.D., dan Prof. Dr. Ir. Anne Nuraini, M.P.

Guru Besar bidang Ilmu Pembiayaan dan Risiko Pertanian, Prof. Eliana Wulandari menyampaikan paparan keilmuan berjudul “Aksesibilitas Pembiayaan Inklusif: Peranan dan Tantangannya dalam Peningkatan Kinerja dan Pengelolaan Risiko Pertanian”. Prof. Eliana menekankan bahwa pembiayaan inklusif sangat penting untuk meningkatkan kinerja dan ketahanan sektor pertanian, namun masih terkendala oleh prosedur yang rumit, bunga tinggi, dan rendahnya literasi keuangan petani. Melalui pendekatan interdisipliner, Prof. Eliana menawarkan model konseptual untuk memahami hubungan antara akses pembiayaan, kinerja usaha, dan perilaku risiko petani, sekaligus mendorong solusi konkret yang memperkuat fondasi finansial pertanian Indonesia secara berkelanjutan.

“Para pelaku di bidang usaha pertanian, termasuk petani di Indonesia menghadapi risiko yang tinggi terhadap produksi dan harga. Oleh karena itu, akses pembiayaan yang lebih luas, inklusif, dan terjangkau penting dalam upaya peningkatan kinerja dan menghadapi risiko pada sektor pertanian,” papar Prof. Eliana.

Guru Besar bidang ilmu pemuliaan tanaman – breeding for abiotic stress and yield quality, Prof. Anas, memberikan paparan ilmiah berjudul “Strategi Percepatan Pemuliaan Tanaman Toleran Cekaman Abiotik: Menjamin Ketahanan Pangan Nasional di Tengah Perubahan Iklim dan Polusi Lingkungan”. Prof. Anas menegaskan bahwa percepatan pemuliaan tanaman toleran cekaman abiotik seperti kekeringan, tanah masam, dan suhu tinggi menjadi strategi kunci dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim dan polusi lingkungan, dengan mengintegrasikan pendekatan fisiologis, genetika, dan bioteknologi untuk menghasilkan varietas unggul seperti sorgum tahan aluminium dan tomat tahan simpan.

“Strategi paling fundamental dalam menghadapi tantangan ini adalah melalui pemuliaan tanaman yang diarahkan untuk menghasilkan genotipe-genotipe baru. Oleh karena itu, strategi riset untuk mempercepat pemuliaan tanaman toleran cekaman abiotik sangat diperlukan.,” jelas Prof. Anas.

Guru Besar bidang Ekofisiologi Tanaman Perkebunan Penghasil Getah dan Minyak, Prof. Cucu Suherman Victor Zar, memaparkan keilmuannya yang berjudul “Optimasi Lahan Perkebunan dalam Menunjang Ketahanan Pangan Nasional”. Prof. Cucu mengatakan bahwa optimalisasi lahan perkebunan melalui sistem tumpangsari, yaitu menanam tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai di sela tanaman sawit atau karet, merupakan strategi efektif untuk meningkatkan produktivitas lahan, pendapatan petani, dan ketahanan pangan nasional, sekaligus mengurangi dampak negatif monokultur dan alih fungsi lahan pertanian.

“Pola tumpangsari terbukti mampu mengoptimalkan lahan perkebunan secara produktif dan berkelanjutan. Sistem ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi petani, tetapi juga berkontribusi besar terhadap stabilitas dan ketahanan pangan nasional,” papar Prof. Cucu.

Guru Besar bidang Ilmu Sosiologi dan Penyuluhan, Prof. Iwan Setiawan, memberikan paparan ilmiah berjudul “Membangkitkan Peradaban Bangsa Agraris Melalui Penyuluhan Metamodern”. Prof. Iwan menjelaskan bahwa penyuluhan metamodern menjadi pendekatan strategis dalam membangun kembali peradaban bangsa agraris melalui kolaborasi spiritual, emosional, intelektual, dan aksi, serta mendorong penguatan identitas nasional lewat komoditas unggulan yang berakar pada budaya lokal.

“Komoditas specialty menjadi titik awal dalam membangkitkan peradaban, harus dikomunikasikan kepada generasi dan dunia. Keragaman sumber daya agraris, terutama pangan, harus dihidupkan dan dibudayakan, karena menjadi kunci untuk mewujudkan kedaulatan dan peradaban bangsa,” jelas Prof. Iwan.

Guru Besar bidang Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman, Prof. Rija Sudirja, memaparkan keilmuannya berjudul “Transformasi Lahan Tercemar Menjadi Lahan Produktif: Peran Pupuk Bio-organomineral dalam meningkatkan Kualitas Tanah dan Remediasi Pencemaran Logam Berat”. Dalam pemaparannya, Prof. Rija menekankan pentingnya transformasi sistem irigasi yang tidak hanya berbasis teknis, tetapi juga mengintegrasikan aspek sosial, kelembagaan, dan lingkungan guna mewujudkan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan melalui efisiensi air, revitalisasi infrastruktur, partisipasi petani, serta pemanfaatan teknologi digital. Pupuk Bio-organomineral dengan formulasi ramah lingkungan dan berbasis sumber daya lokal hadir sebagai solusi untuk mengatasi pencemaran lahan pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan berkelanjutan.

“Inovasi pupuk ini berpotensi untuk diproduksi oleh industri, baik skala besar, menengah, maupun kecil. Penggunaan pupuk yang efisien dan optimal akan meningkatkan produktivitas pertanian, menghasilkan hasil panen yang lebih baik, dan berimplikasi terhadap peningkatan pendapatan,” ujar Prof. Rija.

Guru Besar bidang Ilmu Pembiayaan Agribisnis dan Lembaga Keuangan Perdesaan, Prof. Tuti Karyani, memberikan paparan ilmiah berjudul “Peran Pembiayaan dalam Mendukung Implementasi Agribisnis Sirkular dan Pembangunan Pertanian Berkelanjutan”. Prof. Tuti mengatakan bahwa pembiayaan yang inklusif dan berkelanjutan sangat penting dalam mendukung agribisnis sirkular dan pembangunan pertanian modern, dengan mengedepankan model pembiayaan rantai nilai, pembiayaan hijau, serta penguatan lembaga keuangan perdesaan seperti koperasi dan BUMDes untuk menjangkau petani yang belum terlayani sistem keuangan formal.

“Masa depan pertanian sangat tergantung pada keberanian kita membenahi aspek pembiayaannya. Kita tidak bisa lagi berpikir sektoral, namun pembiayaan pertanian harus menjadi bagian dari sistem pembangunan wilayah perdesaan yang terpadu,” papar Prof. Tuti.

Guru Besar bidang Ilmu Insektisida Alami Prof. Yusup Hidayat, menjelaskan keilmuannya berjudul “Insektisida Alami: Potensi, Tantangan, dan Arah Pengembangannya ke Depan”. Prof. Yusup menjelaskan bahwa insektisida nabati berbasis bahan alam seperti minyak atsiri, kaolin, dan mikroba berpotensi menjadi solusi ramah lingkungan dalam pengendalian hama, namun masih menghadapi tantangan pada efektivitas, biaya, dan formulasi, sehingga diperlukan riset berkelanjutan, pemanfaatan nanoteknologi, serta strategi efisiensi untuk mendukung kemandirian pestisida nasional.

“Umumnya, bahan aktif insektisida nabati adalah metabolit sekunder tanaman baik berupa ekstrak, minyak atsiri atau minyak nabati non-edible. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa sebenarnya tidak hanya yang non-edible, minyak nabati yang edible pun seperti minyak kelapa memiliki potensi sebagai pengendali serangga hama,” jelas Prof. Yusup.

Guru Besar dalam bidang Fisiologi dan Teknologi Benih, Prof. Anne Nuraini, memberikan paparan ilmiah berjudul “Rekayasa Source-Sink dengan Zat Pengatur Tumbuh dalam Meningkatkan Hasil Benih”. Dalam penjelasannya, Prof. Anne mengatakan bahwa rekayasa hubungan source-sink melalui aplikasi zat pengatur tumbuh (ZPT) seperti sitokinin dan paclobutrazol efektif meningkatkan hasil dan kualitas benih, sebagaimana dibuktikan pada tanaman kentang, serta menjadi strategi adaptif dalam menghadapi perubahan iklim dan keterbatasan lahan.

“Pengaplikasian ZPT di umur dan fase pertumbuhan yang tepat serta konsentrasi yang sesuai, mampu meningkatkan hasil benih kentang yang ditanam di dataran medium, sehingga diharapkan dapat meningkatkan produksi benih kentang nasional dan memenuhi kebutuhan benih kentang,” jelas Prof. Anne

Dengan bertambahnya jumlah Guru Besar, Unpad tidak hanya menegaskan komitmennya dalam memperkuat fondasi keilmuan pertanian, tetapi juga memperluas kontribusi akademik dalam menjawab tantangan ketahanan pangan, keberlanjutan lingkungan, dan pembangunan perdesaan. Paparan ilmiah yang disampaikan para profesor mencerminkan kekayaan riset lintas bidang yang strategis dan aplikatif, sekaligus menjadi tonggak penting dalam mendorong inovasi agrikultur Indonesia yang tangguh dan berdaya saing di tingkat global.*

Buku Paparan Keilmuan:

1. Prof. Dr. Eliana Wulandari, SP., M.M.
2. Prof. Ir. Anas , M.Sc., Ph.D.
3. Prof. Dr. Ir. Cucu Suherman Victor Zar, M.Si.
4. Prof. Dr. Iwan Setiawan, S.P., M.Si.
5. Prof. Dr. Rija Sudirja, S.P., M.T.
6. Prof. Dr. Ir. Tuti Karyani, M.SP.
7. Prof. Yusup Hidayat, S.P., M.Phil., Ph.D.
8. Prof. Dr. Ir. Anne Nuraini, M.P.

(Foto-foto oleh: Jalasenastri Saprala dan Dadan Triawan)

Share this: