Tim Mahasiswa FK Unpad Raih Runner Up dan Special Award Global Hackatom 2025 di Rusia

Tim "Tahu Sumedang" yang terdiri dari mahasiswa Fakultas Kedokteran Unpad berhasil meraih posisi runner up dan special prize pada kompetisi skala internasional Global Hackatom 2025 di Moskow, Rusia pada Minggu 28 September 2025. (Foto oleh: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Tim mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran berhasil meraih posisi Runner Up (juara dua) dan Special Award pada ajang internasional Global Hackatom 2025 yang diselenggarakan di Moskow, Rusia, pada September 2025 lalu. Tim yang menamai diri “Tahu Sumedang” ini bersaing dengan ratusan peserta dari 10 negara, yakni Brasil, Bolivia, Hungaria, Namibia, Rwanda, Kazakhstan, Uzbekistan, Myanmar, Indonesia, dan Rusia.

Tim yang terdiri atas Marsha Aziza Wardhana, Fathi Ghifari Muhammad, Richard Christophorus, Frederick Suhamdy, dan Krisi Nohan menunjukkan kolaborasi dan inovasi luar biasa dalam kompetisi tersebut. Di bawah bimbingan Dr. Mohammad Ghozali, dr., MSc., (Dosen Departemen Ilmu Kedokteran Dasar Unpad), Arifudin Achmad, dr., Ph.D. (Dosen Departemen Ilmu Kedokteran Nuklir Unpad), Prof. Efrizon Umar (BRIN) dan Prof. Muhayatun (BRIN), tim ini berhasil mengembangkan ide riset yang solid dan aplikatif hingga mampu bersaing di tingkat internasional.

Global Hackatom merupakan kompetisi inovasi internasional yang berfokus pada pemanfaatan teknologi nuklir, baik di bidang energi maupun non-energi. Tahun ini, ajang tersebut menantang peserta untuk menghadirkan solusi inovatif berbasis sains nuklir bagi kehidupan manusia, termasuk dalam aspek kedokteran, keselamatan kerja, dan eksplorasi luar angkasa.

Dalam kompetisi ini, tim Tahu Sumedang menghadirkan dua inovasi utama yang berfokus pada kesehatan astronot di luar angkasa. Inovasi pertama berupa metode diagnostik berbasis radioisotop tembaga (copper) untuk mengukur baseline ritme sirkadian pada astronot. Sementara inovasi kedua adalah radioaktif neuroskogenin, sebuah obat yang dirancang untuk menyeimbangkan kembali sistem ritme sirkadian tubuh astronot selama berada di luar angkasa, di mana mereka tidak mengalami siklus siang dan malam secara alami.

Lebih lanjut, untuk mempermudah pemahaman konsep ilmiah yang kompleks, tim mempresentasikan inovasi tersebut melalui simulasi gim Minecraft. Pendekatan interaktif ini berhasil menarik perhatian juri karena mampu menjelaskan ide ilmiah dengan cara yang sederhana namun tetap akurat.

“Karena sebagian juri berasal dari non-kesehatan, kami berupaya menyampaikan ide kedokteran dengan cara yang sederhana namun tetap ilmiah,” tambah Richard.

Selama proses kompetisi, tim memperoleh dukungan penuh dari Unpad, mulai dari izin keberangkatan, fasilitasi visa, hingga pendampingan akademik. Dengan waktu persiapan yang sangat terbatas, yaitu hanya 18 jam untuk menyusun konsep, membuat presentasi, dan menyiapkan simulasi, tim menghadapi tekanan luar biasa. Meski demikian, mereka berhasil menyeimbangkan tanggung jawab akademik dengan kompetisi internasional, bahkan menyelesaikan tugas kuliah di tengah perjalanan pulang dari Rusia.

“Tanpa dukungan Unpad dan para dosen, kami tidak akan bisa sampai di titik ini,” ujar Marsha selaku ketua tim.

Bagi para anggota, kemenangan ini menjadi pengalaman berharga untuk memperluas wawasan dan jejaring global. Mereka belajar langsung dari peserta lintas negara, mulai dari mahasiswa pascasarjana hingga peneliti senior, yang memperkaya pemahaman mereka tentang potensi penerapan teknologi nuklir di bidang kedokteran.

“Kami berharap kemenangan ini membuka jalan bagi mahasiswa Unpad, khususnya di FK, untuk lebih mengenal dan mengembangkan bidang kedokteran nuklir, yang sebenarnya sudah menjadi keunggulan Unpad di tingkat nasional,” pungkas Marsha.* (Reporter: Jericho Masyiakh Metiary)

Share this: