Nono Karsono, S.P., M.Sc., PhD (kiri), moderator, dan Fitri Widianti, S.P., M.BtS., Ph.D. (kanan). (Foto: Dadan T)*

[Unpad.ac.id, 10/04/2013] Produksi padi di Indonesia saat ini banyak mengalami kendala. Di sisi lain, padi merupakan bahan makanan pokok bagi rakyat Indonesia sehingga dibutuhkan upaya untuk menciptakan padi yang berkualitas untuk mengatasi krisis ketahanan pangan, salah satunya ialah menghasilkan padi transgenik.

Nono Karsono, S.P., M.Sc., PhD (kiri), moderator, dan Fitri Widianti, S.P., M.BtS., Ph.D. (kanan). (Foto: Dadan T)*

“Tantangan terbesar yang dihadapi oleh produsen padi di Indonesia cukup kompleks, yakni ketersediaan lahan, penurunan permukaan tanah, ancaman kekeringan, iklim, hingga serangan hama,” ujar peneliti padi transgenik yang juga dosen Klinik Tanaman Fakultas Pertanian Unpad, Nono Karsono, S.P., M.Sc., PhD., saat menjadi pembicara pada Seminar Vivat Academia, Kamis (09/04).

Lebih lanjut Nono mengatakan, padi transgenik adalah jenis padi hasil transfer gen dari jenis tanaman yang berbeda. Jenis padi ini diakui memiliki potensi signifikan untuk mengatasi krisis ketahanan pangan. Selain itu padi transgenik pun potensial sebagai bahan pangan yang aman dari serangan hama.

“Melalui transfer gen ini paling tidak berkontribusi dalam hal penyediaan produksi dan penyediaan nutrisi dari sebuah padi,” tambahnya.

Kenyataan yang terjadi, di Indonesia padi transgenik masih menuai banyak perdebatan. Selain itu, kurangnya biaya dan sarana untuk melakukan penelitian padi transgenik juga dinilai menjadi sebab mengapa padi transgenik belum mampu menjadi bahan pangan berkualitas di Indonesia.

Nono mengutarakan, beberapa penelitian mengenai padi transgenik yang dilakukan beberapa institusi masih belum mengarah pada upaya komersialisasi. Padahal, di negara lain seperti Jepang, padi transgenik sudah menjadi komoditi pangan yang berkualitas dan sudah dilempar ke pasaran.

“Di Jepang sudah ada jenis padi transgenik untuk penderita Hipertensi. Namun, ke depan juga kita akan menjalin kerjasama dengan Tsukuba University Jepang untuk melakukan penelitian padi transgenik untuk penderita diabetes,” paparnya.

Masih menurut Nono, penelitian padi transgenik di Indonesia memiliki potensi yang cukup besar. Ia mengambil contoh penelitian padi transgenik yang dilakukan LIPI salah satunya ialah membuat padi transgenik yang tahan terhadap serangan serangga pemakan daun. Jenis padi tersebut menghasilkan protein kristal yang menjadi racun di pencernaan serangga namun aman bagi manusia.

“Penelitian padi transgenik di Indonesia sebenarnya sudah dilakukan pada tahun 2000-an silam. Beberapa hasilnya ialah padi yang tahan terhadap wereng, atau tahan terhadap kekeringan,” tambahnya.

Nono pun berharap ada dukungan penuh dari semua pihak, khususnya pemerintah, dalam hal penelitian padi transgenik. Salah satu upaya ialah memfasilitasi para peneliti dan mempersiapkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan transgenik.

“Saya pikir padi transgenik menawarkan solusi mengatasi ketahanan pangan. Tinggal kita yang sendiri yang mau atau tidak mempersiapkannya,” kata Nono.

Selain Nono, seminar yang digelar di Bale Sawala Gedung Rektorat Kampus Unpad Jatinangor ini juga diisi oleh pemaparan dari Fitri Widianti, S.P., M.BtS., Ph.D. Fitri sendiri mengangkat tentang Australian Rice Plant-Associated Endophytic Actinobacteria.

Berbeda dengan padi transgenik, penelitian yang dilakukan Fitri ialah bagaimana mempertahankan ketahanan padi dengan menggunakan apa yang ada di dalam padi itu sendiri, salah satunya ialah dengan memanfaatkan endophytic actinobacteria dalam kandungan padi.*

Laporan oleh: Maulana / eh *

Share this: