Didukung BRIN, Unpad Inisiasi Pembentukan Pusat Kolaborasi Riset Radiofarmaka Teranostik

radiofarmaka
Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran didukung Badan Riset dan Inovasi Nasional menginisiasi pembentukan Pusat Kolaborasi Riset Radiofarmaka Teranostik.*

[Kanal Media Unpad] Dalam upaya membangun ekosistem kolaborasi riset radiofarmaka teranostik, tim peneliti Universitas Padjadjaran yang diketuai Guru Besar Fakultas Farmasi Unpad Prof. apt. Muchtaridi, Ph.D., menginisiasi Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Radiofarmaka Teranostik yang didukung BRIN.

Pusat ini didasarkan pada kemampuan Unpad untuk mendorong berkembangnya riset Radiofarmaka dan penyiapan SDM nuklir, khususnya di Fakultas Farmasi dan Fakultas Kedokteran.

Saat ini Fakultas Farmasi Unpad menjadi pionir dalam penyiapan SDM nuklir melalui Program Spesialis Farmasi Nuklir serta Fakultas Kedokteran Unpad yang lebih dahulu memiliki Program Spesial Kedokteran Nuklir. SDM nuklir ini selanjutnya akan dapat berkontribusi dalam pelayanan di RS Kedokteran Nuklir, instansi pemerintah dan industri farmasi.

Dalam PKR Radiofarmaka Teranostik tersebut berpartisipasi sejumlah SDM dari berbagai kepakaran, di antaranya farmasis/apoteker spesialis farmasi nuklir, radiochemist, ahli kimia, biologi radiasi, fisika medis, fisika nuklir, biofisika, proteksi radiasi, radiografer, dokter hewan dan dokter spesialis kedokteran nuklir.

Tenaga tersebut di antaranya bergelar profesor yang berasal dari berbagai institusi perguruan tinggi, yaitu Unpad, UI, ITB, dan STFI, serta dari RSHS, RS Dharmais, MRCCC Siloam Hospital Semanggi, dan BRIN.

Sebagai implementasi dari kegiatan PKR ini, telah diselenggarakan Rapat Koordinasi PKR Radiofarmaka secara hybrid dari Ruang Rapat Pleno Fakultas Farmasi Unpad, Jatinangor,  Rabu (5/10/2022) lalu. Acara dihadiri oleh para peneliti dari semua institusi yang ikut serta.

Rapat Koordinasi PKR ini dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Riset Fakultas Farmasi Prof. Dr. apt. Aliya Nurhasanah.

Dalam sambutannya, Prof. Aliya berharap bahwa PKR ini akan dapat menghasilkan publikasi internasional bereputasi, peningkatan jumlah paten, jumlah prototipe, peningkatan jumlah lulusan S3 dengan topik radiofamaka teranostik. serta memperkuat kerjasama baik nasional dan internasional dalam kolaborasi riset dan hilirisasi produk RF.

“Dengan kemampuan SDM, fasilitas dan yang dimiliki, saya percaya PKR ini kelak dapat menjadi Pusat Unggulan Iptek Radiofarmaka Teranostik di Indonesia yang memberikan dampak yang luas bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya penanganan kanker dan infeksi,” ujar Prof. Aliya.

Prof. Muchtaridi yang menjadi Ketua Pusat Kolaborasi Riset Radiofarmaka Teranostik menjelaskan bahwa penyiapan bahan baku radiofarmaka diawali dari sintesis farmaka sebagai senyawa yang akan berikatan dengan reseptor tertentu dapat berupa peptida, protein, antibodi, isolat bahan alam dan senyawa lainnya.

Produk farmaka baru ini dikembangkan oleh Unpad dan STFI  di antaranya berupa isolat bahan alam dan produk sintesis dari modifikasi isolat serta sintesis peptida dan konjugasinya.

Kemudian dilanjutkan dengan proses optimasi radiolabeling, uji in-vitro, uji praklinis dan perhitungan dosimetri yang dikembangkan oleh para periset radiofarmasis, radiochemist dan biologi radiasi di Fasilitas ORTN khususnya di Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka dan Biodosimetri (PRTRRB).

Pada tahap lanjutan, imaging dengan kamera gamma, proteksi radiasi serta keselamatan radiasi dilakukan oleh Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi dan Mutu Nuklir (PRTKMMN).

Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung berperan dalam pemodelan farmakokinetika radiofarmaka pada hewan uji dengan pemodelan matematika dan penentuan nilai time-integrated activity coefficient (TIAC) pada hewan uji serta pemodelan transport radiasi radiofarmaka untuk menentukan sebaran dosis serap radiasi pada manusia.

Pada tahapan scale up produk radiofarmaka dan dokumen registrasi, PRTRRB bekerja sama dengan mitra industri farmasi. Sebagai tahapan baru, maka produk radiofarmaka yang telah memenuhi syarat dari tahapan praklinis akan dilanjutkan ke tahap uji klinis yang melibatkan beberapa rumah sakit dengan fasilitas kedokteran nuklir, seperti RS Hasan Sadikin Bandung, RS Kanker Dharmais dan MRCCC Siloam Hospital Semanggi Jakarta. (rilis)*

Share this: