Laporan oleh Salsabila Diah Diometa dan Sulthan Adam Wizarddinan Hariono
[Kanal Media Unpad] Bulan Ramadan seyogianya bukan menjadi halangan bagi mahasiswa untuk berkegiatan akademik dan kemahasiswaan. Apalagi saat ini Universitas Padjadjaran sudah membuka kembali kampus untuk kegiatan akademik dan kemahasiswaan.
Meski demikian, banyak di antara mahasiswa yang baru pertama kali menjalani puasa Ramadan jauh dari rumah. Hal tersebut menimbulkan beragam pengalaman bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa dari luar kota yang menetap di Jatinangor.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Fadlurahman Ramdani mengisi aktivitas di bulan suci ini dengan mengerjakan tugas akhir sebagai salah satu syarat kelulusan. Fadhlu mengatakan, tahun ini adalah kali pertamanya ia berpuasa ramadan di Jatinangor. Hal ini tentu saja menjadi pengalaman baru baginya.
“Kunci utamanya adalah adaptasi dengan produktivitas serta jam kerja yang berbeda dari tahun sebelumnya,” tutur Fadhlu.
Hal senada dirasakan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Alyaa Nur Nasywaa. Selain berkuliah, Alyaa mengisi Ramadan dengan berbagai program kerja organisasi kemahasiswaan yang diikutinya.
Dikatakan Alyaa, tahun ini merupakan Ramadhan keduanya berada di Jatinangor dan jauh dari keluarga. Menurutnya, tahun ini jauh lebih ramai daripada tahun sebelumnya karena banyak mahasiswa yang telah melakukan perkuliahan secara luring.
Selain itu, tidak sedikit juga mahasiswa yang mengisi waktu dengan kegiatan yang disukai, seperti yang dilakukan para mahasiswa dari UKM Unpad Archery. Beberapa mahasiswa yang ditermui Kanal Media Unpad merupakan mahasiswa rantau dan memilih untuk bergabung menjadi anggota UKM. Hal ini bukan hanya untuk mencari pengalaman tetapi juga sebagai sarana untuk menepis kerinduan dari keluarga.
Ketua Program Studi Sosiologi Unpad Dr. Hery Wibowo, M.M., mengatakan, Ramadan pertama saat kampus kembali dibuka ini mengharuskan mahasiswa dari luar kota untuk kembali menetap dan berkegiatan di Jatinangor. Di satu sisi, kembalinya mahasiswa ke kampus mendorong aktivitas kemahasiswaan kembali menggeliat.
“Jadi saya melihat fenomena kemahasiswaan juga mulai bangkit kembali setelah mati suri. Kemudian, mereka juga kadang-kadang lebih bersemangat belajar di kelas,” ujarnya.
Semangat ini seharusnya didukung dengan program pembelajaran yang relevan. Hery mengatakan, pada masa transformasi ini, dosen harus mendesain proses pembelajaran yang mendorong partisipasi mahasiswa melalui student centered learning atau project based learning guna meningkatkan keaktifan mahasiswa.
“Dosen juga harus mendorong mahasiswa untuk aktif dalam pembelajaran di luar kampus, seperti kegiatan kemahasiswaan, kompetisi, dan lainnya,” kata Hery. (arm)*
