Tim KKNM Unpad Dorong Peningkatan Pemakaian Bahasa Sunda Melalui Literasi Digital

Tim KKNM Universitas Padjadjaran di Desa Citengah, Sumedang Selatan.*

[Kanal Media Unpad] Sebagai generasi penerus, anak-anak memiliki peran yang sangat strategis terhadap eksistensi budaya Sunda, khususnya dalam aspek bahasa. Kenyataannya, masih banyak anak-anak yang lahir dan tumbuh di lingkungan masyarakat Sunda yang tidak bisa menggunakan bahasanya.

Hal ini yang kemudian memantik tim KKNM Universitas Padjadjaran di Desa Citengah, Sumedang Selatan melakukan upaya untuk melestarikan bahasa Sunda. Berdasarkan survei yang dilakukan tim, banyak kendala yang dialami orang tua ketika mengajarkan bahasa Sunda kepada anaknya.

Kendala yang ditemui di antaranya adanya tingkatan bahasa (undak-usuk) dalam bahasa Sunda yang membuat orang tua menjadi ragu bahkan takut salah mengajarkannya, penggunaan bahasa kasar yang kerap tidak disadari, serta pengaruh perkembangan teknologi.

Berdasarkan hasil survei tersebut, tim KKNM dengan Dosen Pembimbing Lapangan Prof. Cece Sobarna, M.Hum., menyusun dan menyelenggarakan Forum Diskusi “Pelestarian Bahasa Sunda Melalui Peningkatan Literasi Digital bagi Anak-anak” yang dihadiri oleh guru dan orang tua siswa Paud, TK, dan SD di Aula Kantor Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, 31 Juli 2023.

Dalam forum tersebut, Prof. Cece yang juga Guru Besar Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Unpad menyampaikan materi mengenai “Penggunaan Bahasa Sunda dalam Lingkungan Keluarga”. Menurut Prof. Cece, pemakaian bahasa daerah sebagian besar masih kuat, tetapi mengalami penurunan cukup signifikan.

“Dengan adanya RUU yang mengatur penggunaan bahasa daerah ini, Pemerintah Jawa Barat pun sebetulnya sudah memiliki regulasi yang bertujuan mengatur bagaimana penggunaan bahasa daerah tersebut, seperti pembakuan aksara Sunda dan pembelajarannya di sekolah-sekolah. Namun, sesungguhnya yang perlu menjadi perhatian semua pihak adalah pentingnya penggunaan bahasa Sunda di lingkup terkecil masyarakat, yakni keluarga,” ujar Prof. Cece.

Sementara itu, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas April Ece Sukmana menjelaskan “Pelestarian Budaya Bangsa dalam Membentuk Kearifan Lokal”. Menurut Ece, banyak hal yang tidak pasti dan diperkirakan bakal hilang di era Society 5.0. Bukan hanya pekerjaan yang diganti dengan teknologi, melainkan peran bahasa pun akan turut serta tergantikan, bahkan mungkin saja dapat menuju ke kepunahan.

“Kita harus memiliki prinsip growth mindset, yaitu tidak pernah merasa cukup dalam mencari ilmu, harus membuat terobosan untuk anak-anak zaman sekarang juga. Mengenalkan budaya Sunda tidak harus dengan hal-hal yang rumit, tetapi bisa juga dimulai dengan hal-hal yang ringan, seperti dongeng dan lagu berbahasa Sunda,” ujarnya.

Diskusi ditutup dengan materi “Peran Literasi Digital dalam Pelestarian Bahasa Sunda” oleh Dosen Universitas Sebelas April yang aktif juga sebagai Pembina Pramuka Arip Budiman. Literasi digital adalah aspek yang krusial dalam pelestarian bahasa Sunda di era digital saat ini.

Dengan memanfaatkan teknologi secara cerdas dan bijak, masyarakat dapat memperluas jangkauan pelestarian bahasa Sunda, memperkenalkan kekayaan budaya Sunda kepada dunia, dan menginspirasi generasi muda untuk mencintai bahasa Sunda sehingga mau menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Upaya pelestarian bahasa Sunda melalui literasi digital akan membantu mempertahankan identitas budaya yang unik dan berharga bagi masyarakat Sunda dan Indonesia secara keseluruhan,” tutur Arip Budiman. (rilis)*

Share this: