FPIK Unpad Gelar Kuliah Umum Seputar Pengelolaan Perairan

Para pembicara kuliah umum bertajuk “Revitalisasi dan Reorientasi Pengelolaan Perairan Umum Daratan” di Aula Gedung 2 FPIK Unpad, Jatinangor, Sumedang, pada Rabu (15/11/2023).*

Laporan oleh Nur Aini Rasyid

[Kanal Media Unpad] Program Studi Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Revitalisasi dan Reorientasi Pengelolaan Perairan Umum Daratan” di Aula Gedung 2 FPIK Unpad, Jatinangor, Sumedang, pada Rabu (15/11/2023).

Kuliah umum ini menghadirkan pakar Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Suhendar I. Sachoemar, Direktur Rehabilitasi Perairan Darat dan Mangrove Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Ir. Inge Retnowati, M.E., serta Kepala Departemen Perikanan FPIK Unpad Prof. Dr. Ir. Zahidah, M.S.

Inisiasi kegiatan ini merupakan perwujudan dari visi Program Studi Perikanan “Menjadi program studi perikanan yang terdepan dalam pengelolaan sumber daya perairan umum yang berkelanjutan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia di bidang perikanan pada tahun 2025”.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan dan Riset FPIK Unpad Prof. Dr. Ir. Rita Rostika.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Suhendar memaparkan riset dan pengalaman panjangnya dalam studi dan kerja sama pengelolaan lingkungan perairan, termasuk laut dan perairan umum daratan (inland waters).

Secara khusus, Prof. Suhendar menyampaikan suatu pendekatan pengelolaan di Jepang yang dikenal dengan “Satoumi” yaitu pendekatan holistik masyarakat dengan lanskap lingkungannya, dalam contohnya masyarakat pesisir dan laut.

Prof. Suhendar juga menambahkan bukan tidak mungkin kita dapat menghadirkan suatu pengembangan konsep dan model masyarakat dengan lanskap sungai “Satokawa” atau danau “Satomizumi”. Namun demikian, menurutnya adalah bagaimana kunci keterpaduan pengelolaan bersama masyarakat agar berkelanjutan.

Penyampaian materi kuliah umum dilanjutkan oleh Ir. Inge Retnowati, M.E., mengenai pengelolaan perairan umum daratan di Indonesia terutama penyelamatan 15 danau prioritas.

Inge menekankan pentingnya pengelolaan perairan umum di daratan serta ekosistem pendukungnya, karena bagaimanapun kebutuhan air bersih saat ini bersumber dari air yang ada pada ekosistem daratan.

Menurutnya, dari kelangkaan dan krisis air bersih yang terjadi di tahun 2000 sebanyak 6% akan meningkat hingga 9,6% di tahun 2045. Selain itu juga akan ditambah dengan penurunan kualitas air secara signifikan.

Secara khusus, Inge menyampaikan bahwa danau adalah ekosistem yang unik, sehingga apabila pemanfaatan danau terus dilakukan tanpa memperhatikan kelestarian fungsi ekologisnya, maka pada saatnya nanti semua jasa ekosistem danau akan hilang karena danau sudah rusak, tidak dapat dipulihkan, dan tidak dapat dimanfaatkan lagi.

Sebagai materi penutup Prof. Zahidah, melihat pentingnya peran dunia pendidikan terutama Perikanan Unpad dalam mewujudkan keselestarian perairan umum daratan melalui perwujudan tridharma perguruan tinggi.

Secara khusus, Prof. Zahidah memamparkan perjalanan para peneliti Unpad khususnya perneliti di Perikanan Unpad sejak tahun 80-an saat pembangunan Waduk Saguling dan Cirata, hingga saat ini yang terbaru adalah Waduk Jatigede yang ada di Sumedang. Keunggulan geografis ini menjadi tantangan dengan fakta berkembangnya permasalahan lingkungan di perairan waduk tersebut.

Sesi diskusi yang berjalan sangat menarik membawa pada satu kesimpulan pentingnya pengelolaan perairan umum daratan bagi kita semua. Sebuah kesepahaman antara para narasumber adalah pentingnya memberikan legasi bagi generasi mendatang.

Oleh karena itu, hadirnya sebuah pusat riset nasional serta museum yang didedikasikan bagi pengelolaan perairan umum daratan adalah perwujudan komitmen kita dalam pengelolaan perairan umum daratan yang berkelanjutan untuk kesejahteraan dan legasi bagi peradaban masyarakatnya. (rilis)*

Share this: