Pakar SDGs Center Unpad Sarankan OECD Hapus Utang Negara Berkembang

Prof. Dr. Zuzy Anna, M.Si. (Foto: Arsip Kantor Komunikasi Publik Unpad)*

Laporan oleh Ahmad Dyandra Rama Putra Bagaskara

[Kanal Media Unpad] Direktur Pusat Unggulan SDGs Center Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Zuzy Anna, M.Si. menjadi pembicara kunci dalam pertemuan tahunan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) bertajuk “Development Cooperation’s Role in Accelerating Poverty and Inequality Reduction at the Mid-Point of Agenda 2030” yang digelar secara daring, Selasa (12/12/2023).

Dikutip dari laman resmi SDGs Center Unpad, pada acara itu, Prof. Zuzy memaparkan hasil risetnya mengenai proyeksi tingkat kemiskinan global dari berbagai dimensi. Paparan hasil riset tersebut menjadi pegangan dari pembahasan tentang bagaimana strategi yang harus dilakukan OECD untuk mengantisipasi gagalnya dunia dalam memenuhi target-target SDGs terkait dengan kemiskinan dan ketimpangan pada tahun 2030.

Dalam risetnya, Prof. Zuzy menyimpulkan bahwa target SDGs global yang terkait dengan kemiskinan dari berbagai dimensi, seperti tingkat kemiskinan ekstrem, malnutrisi, stunting, tingkat kematian bayi, tingkat kematian ibu melahirkan, serta akses air bersih dan sanitasi diprediksi tidak akan tercapai.

Negara-negara di Sub-Sahara Africa juga akan makin mendominasi populasi penduduk dengan kemiskinan ekstrim di dunia. Bahkan, dikatakan Prof. Zuzy, hal yang paling mengkhawatirkan adalah tingkat malnutrisi akan meningkat pada 2030, melebihi angka pada 2015 atau ketika SDGs baru dicanangkan.

Oleh karena itu, SDGs Center Unpad menyarankan kepada OECD agar segera melakukan pengurangan beban utang besar-besaran bagi negara-negara berkembang selama 7 tahun kedepan menuju 2030, tenggat akhir SDGs.

Hal tersebut penting dilakukan mengingat lesunya ekonomi global justru akan menyebabkan pengeluaran sosial dan berbagai pengeluaran produktif lainnya harus diekspansi, bukan dikurangi, terutama di negara-negara di belahan selatan dunia (global south). Tanpa itu, tercapainya penghapusan kemiskinan global dengan berbagai dimensi pada 2030 hanya akan tinggal harapan.(rilis)*

Share this: