Tim KKN Unpad Bersama Peneliti AS Eksplorasi Biodiversitas di Guha Bau

Foto bersama mahasiswa KKN Universitas Padjadjaran bersama peneliti Amerika Serikat saat melakukan eksplorasi Guha Bau, Pangandaran, Jumat (5/1/2024).*

[Kanal Media Unpad] Kelompok KKN Universitas Padjadjaran di Desa Kertayasa, Cijulang, Kabupaten Pangandaran, melakukan studi penggalian potensi flora dan fauna di desa tersebut, Jumat (5/1/2024). Studi dilakukan bersama seorang peneliti asal Amerika Serikat, Horace Quantine.

Dengan dosen pembimbing lapangan Roffi Grandiosa, PhD, salah satu lokasi studi penggalian potensi flora dan fauna di Desa Kertayasa adalah di area Gua/Guha Bau. Di dalam gua ini, hidup ribuan spesies kelelawar yang bisa dikembangkan kotorannya.

Salah satu pegiat wisata Desa Kertayasa Dede Mendoel mengapresiasi studi yang dilakukan mahasiswa Unpad bersama peneliti asing tersebut. Menurutnya, hal ini merupakan kali pertama seorang peneliti asing mengeksplorasi keanekaragaman di gua tersebut. Diharapkan, eksplorasi ini menjadi momentum berharga dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi lokal.

“Baru pertama kali kedatangan turis asing yang mengeksplorasi keanekaragaman di Guha Bau dan ada peneliti luar yang tertarik untuk meneliti flora dan fauna yang terdapat di Desa Kertayasa” ungkap Dede Mendoel dalam rilis yang diterima Kanal Media Unpad.

Di kawasan Guha Bau di Desa Kertayasa, kotoran kelelawar atau yang biasa disebut guano ini dapat ditemukan dalam jumlah yang signifikan. Dalam penelitian ini juga, tim menyadari potensi guano ini dapat dijadikan sebagai pupuk organik yang sangat baik untuk tanaman. Keberadaan kawasan Guha Bau yang kaya akan guano tersebut dapat dimanfaatkan oleh petani organik dan menjadi daya tarik bagi peneliti untuk datang berkunjung.

Sayangnya, potensi guano belum bisa dimanfaatkan secara maksimal, dan guano tersebut belum diambil atau dimanfaatkan selama lima tahun terakhir. Padahal, potensi pengambilan masih bisa diteruskan hingga 13 ton per tahun, tetapi baru 10 ton yang diambil.

Selain itu, masih banyak akademisi dan pemangku kepentingan yang belum menyadari keberadaan dan manfaat pupuk ini, sehingga perlu upaya untuk menyebarluaskan informasi tersebut. Penting untuk dicatat bahwa pengumpulan guano kelelawar harus dilakukan dengan memperhatikan kelestarian populasi kelelawar dan lingkungan.

Untuk itu, terdapat larangan untuk mengambil atau membawa kelelawar tersebut keluar dari area Guha Bau. Para warga menuturkan bahwa perlu sebuah alat pengangkut yang berupa katrol untuk dapat mengangkut guano ini dari gua ke permukaan agar lebih efisien.

Dengan temuan tersebut, tim merancang edukasi dan membuat katrol yang efektif untuk membantu warga dalam optimalisasi pemanfaatan guano kelelawar ini. Menyusuri jalur yang gelap dan sering kali berlumpur serta menanjak merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya tersebut. Kendati demikian, eksplorasi ini memberikan pengalaman berkesan dan tidak tergantikan bagi tim KKN Unpad. (rilis)*

Share this: