[Kanal Media Unpad] Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Yudi Nurul Ihsan, M.Si., mengatakan, sumber daya perairan Indonesia berpotensi memberikan manfaat besar bagi masyarakat apabila dikelola dengan baik. Ini didasarkan, Indonesia memiliki potensi kandungan sumber daya alam dan mineral besar di wilayah perairannya.
“Dunia sebetulnya sudah punya peta kita. Wilayah kita itu kaya dengan apa saja hanya dengan melihat jenis mikroorganismenya,” kata Prof. Yudi saat menjadi pembicara pada diskusi Satu Jam Berbincang Ilmu “Kegiatan Strategis dan Inovasi dalam Pengelolaan Ekosistem Laut Indonesia,” yang digelar Dewan Profesor Unpad secara daring, Sabtu (16/3/2024).
Kendati wilayah perairan Indonesia luas dan kaya sumber daya alam, masih banyak permasalahan yang terjadi. Untuk mengurai permasalahan tersebut, Prof. Yudi melakukan riset menggunakan metode Causal Chain Analysis (CCA) dan pendekatan DPSIR. Melalui riset yang didanai Global Environment Facility tersebut, Prof. Yudi menganalisis akar masalah tidak optimalnya pengelolaan sumber daya alam yang dilakukan di Indonesia.
“Dari hasil CCA tersebut, ke depan kita bisa menentukan apa yang perlu kita lakukan sehingga kebermanfaatan sumber daya alam itu benar-benar dirasakan di masyarakat,” ujarnya.
Ada lima akar masalah yang ditemukan dari riset tersebut. Pertama, turunnya produktivitas dan keberlanjutan dari pengelolaan sektor perikanan dan akuakultur. Ini terjadi akibat eksploitasi karena tingginya permintaan akan sumber daya pesisir seiring meningkatnya jumlah penduduk, hingga adanya overlapping kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah.
“Bahkan jika berbicara mengenai kebijakan yang berubah-ubah, itu paling banyak di sektor perikanan. Itulah mengapa terjadi penurunan produktivitas dan keberlanjutan di sektor perikanan,” imbuhnya.
Akar kedua adalah terjadinya degradasi beberapa habitat ekosistem maritim. Ini juga terjadi akibat tingginya eksploitasi di wilayah pesisir, tinggnya pertumbuhan penduduk di wilayah pesisir, hingga tekanan masyarakat terhadap kebutuhan makanan yang tinggi tanpa disertai tata kelola yang baik. Hal ini mendorong pemanfaatan wilayah pesisir menjadi tumpang tindih.
Prof. Yudi melanjutkan, akar masalah ketiga adalah meningkatnya pencemaran baik di wilayah darat maupun laut. Ia menjelaskan, laut Indonesia merupakan salah satu penyumbang sampah plastik terbanyak kedua di dunia.
“Bahkan di 2050 kalau kita tidak melakukan terobosan yang baik, maka jumlah sampah plastik di laut mungkin akan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah ikannya,” kata Prof. Yudi.
Akar masalah keempat adalah hilangnya kenakeragaman hayati di Indonesia. Salah satu permasalahannya adalah akibat tingginya permintaan terhadap produk maritim sehingga menyebabkan penangkapan yang tidak terkendali. Kondisi ini menyebabkan banyak spesies kunci di perairan Indonesia terancam punah.
“Akar masalah terakhir adalah akibat perubahan iklim global,” kata Prof. Yudi.*
