[Kanal Media Unpad] Peptida menjadi molekul yang saat ini telah diaplikasikan dalam dunia kedokteran dan bioteknologi. Sudah banyak pula obat peptida, peptida uji klinis, hingga obat peptida dalam pengembangan sebagai agen terapeutik yang dipasarkan. Salah satu yang juga potensial adalah peptida bioaktif dari bahan alam.
Hal tersebut disamnpaikan Guru Besar Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran Prof. Rani Maharani, S.Si., M.Si., Ph.D., saat menyampaikan orasi ilmiah dalam Upacara Pengukuhan dan Orasi Ilmiah Jabatan Guru Besar bidang Kimia Organik yang digelar di Grha Sanusi Hardjadinata, Kampus Iwa Koesoemasoemantri di Dipati Ukur, Bandung, Rabu (24/07/24).
Pada upacara tersebut, Prof. Rani membacakan orasi ilmiah berjudul “Pengembangan Peptida Bioaktif Bahan Alam untuk Bidang Kesehatan”.
Prof. Rani menjelaskan peptida bioaktif yang bisa didapatkan dari sumber hayati dapat menghasilkan karakteristik antimikroba melalui proses yang tepat.
“Peptida bioaktif dapat disintesis secara kimia menggunakan metode sintesis fase padat. Sedangkan untuk peptida siklik dapat disintesis dengan kombinasi metode sintesis fase padat dan fase larutan,” jelas Prof. Rani.
Dalam riset yang dilakukannya, Prof. Rani memberlakukan proses sintesis pada c-PLAI, sebuah siklotetrapeptida yang pertama kali diisolasi pada tahun 2008, dan didapatkan dari suatu spesies rumput laut Jepang, Diginea sp.
Prof. Rani dan tim menggunakan metode sintesis yang berbeda dari studi-studi terhadap c-PLAI sebelumnya demi mengeksplorasi sifat antimikroba dari peptida yang dikaji.
“Dapat disimpulkan bahwa kombinasi residu kationik dan aromatik dapat meningkatkan sifat antimikroba dari peptida,” ucap Prof. Rani.
Risetnya pun berbuah hasil diluar menunjukan sifat antimikroba dari peptida yang dikaji oleh tim Prof. Rani. Riset tersebut juga menghasilkan suatu analog peptida yang memiliki potensi untuk dieksplorasi lebih dalam.
“Dari hasil ini, diperoleh c-PKFI sebagai analog potensial yang dapat dikembangkan untuk penelitian lanjutan,” jelas Prof. Rani. (arm)*
