[Kanal Media Unpad] Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Hikmat Permana, dr., Sp.PD-KEMD., mengatakan bahwa penyakit diabetes melitus merupakan salah satu penyebab kematian dan disabilitas global karena dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Diperlukan tata kelola diabetes melitus yang terintegrasi di Indonesia untuk mengatasi berbagai masalah karena penyakit ini.
Indonesia menjadi salah satu negara dengan prevalensi diabetes yang tinggi dan terus mengalami peningkatan. Tidak hanya terkait dengan pola hidup seperti terlalu banyak mengonsumsi gula dan kurang berolahraga, faktor risiko lain seperti pada individu dengan gangguan toleransi gula juga menjadi alasan peningkatan prevalensi pasien diabetes tersebut.
“Kuncinya adalah bagaimana mengendalikan gula darah. Kita ada upaya, ada peluang untuk dapat menurunkan komplikasi pada pasien-pasien diabetes. Pengendalian faktor risiko diabetes maupun kegemukan dalam perut atau obesitas sentral akan menurunkan 36,8% prevalansi gagal ginjal kronik,” kata Prof. Hikmat dalam diskusi Satu Jam Berbincang Ilmu (Sajabi) “Urgensi Integrasi Tata Kelola Diabetes Melitus di Indonesia” yang diselenggarakan Dewan Profesor Unpad secara daring, Sabtu (27/7/2024).
Mengendalikan kadar gula darah untuk mengurangi faktor risiko penyakit diabetes dan penyakit komplikasi lainnya menjadi tantangan tidak hanya bagi dunia medis, tetapi juga bagi semua pihak. Dalam upaya ini, diharapkan dokter tidak hanya berperan sebagai seseorang yang mengobati, tetapi juga sebagai edukator dalam pembentukan kesehatan yang lebih baik.
Upaya mengendalikan kadar gula darah yang sudah dilakukan oleh dokter dan pasien sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal ini dibuktikan dengan makin meningkatnya pasien diabetes yang melakukan cuci darah, serta meningkatnya pasien yang melakukan pemasangan ring jantung.
Prof. Hikmat menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang harus dibenahi, salah satunya adalah sistem kesehatan yang mendukung dalam memberikan pelayanan kesehatan, yaitu program rujukan. Program rujuk dan rujuk balik tidak bisa dipisahkan dari sistem kesehatan karena bertujuan untuk mencapai efektitas dengan kualitas pelayanan yang optimal.
“Sistem pelayanan kesehatan dan praktik klinis itu terjadi berbagai hambatan, baik standar yang berbeda, kebutuhan iur bayar yang masih tinggi, jaminan asuransi dan posisi formularium yang juga sangat kurang baik, koordinasi perencanaan buruk, pertukanan data kurang lengkap, dan teknologi kurang memadai,” ujar Prof. Hikmat.
Prof. Hikmat mengatakan, sistem rujukan di Indonesia saat ini masih belum berjalan dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan digitalisasi rujukan dalam satu platform, yaitu “Satu Sehat” yang dibuat Kementerian Kesehatan RI. Dalam aplikasi tersebut masyarakat dapat melakukan rujukan secara online yang terintegrasi sehingga aksesibilitas masyarakat lebih mudah.
Lebih lanjut Prof. Hikmat mengatakan bahwa pengembangan digitalisasi tersebut perlu dilakukan secara komprehensif karena pengobatan di Indonesia harus mulai direhabilitatf, kuratif, preventif, hingga promosi kesehatan secara terpadu, menyeluruh, dan berkesinabungan.
“Digitalisasi rujukan medis merupakan keniscayaan dalam perkembangan dunia kedokteran modern membentuk suatu jejaring data secara menyeluruh dari seluruh sistem pelayanan kesehatan dalam era disrupsi menuju pelayanan kesehatan berkualitas, efektif, dan efisien, bukan hanya kasus diabetes, tetapi masalah kesehatan pada umumnya,” jelas Prof. Hikmat. (arm)*
