Orasi Ilmiah Guru Besar dari Fakultas Kedokteran Gigi dan Fakultas Keperawatan

Orasi Ilmiah berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar yang diselenggarakan di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jl. Dipati Ukur 35 Bandung pada Selasa 18 Februari 2025.(Foto oleh: Dadan Triawan/Grafis oleh: Krisna Eka Pratama)*

[Kanal Media Unpad] Dua Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi dan dua Guru Besar Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran menyampaikan orasi ilmiah berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar yang diselenggarakan di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jl. Dipati Ukur 35 Bandung pada Selasa 18 Februari 2025.

Empat Guru Besar tersebut adalah Prof. Dr. Dudi Aripin, drg., Sp.Kg., Subsp. KR., dan Prof. Dr. drg. Agus Susanto, M.Kes., Sp.Perio., Subsp. R.Perio.I.G., dari Fakultas Kedokteran Gigi, serta Prof. Laili Rahayuwati, Dra, M.Kes, MSc, Dr.PH., dan Prof. Yanny Trisyani Wahyuningsih, S.Kp., M.N., Ph.D., dari Fakultas Keperawatan.

Orasi ilmiah dapat disaksikan kembali di tautan YouTube ini: sesi pertama dari Fakultas Kedokteran Gigi dan sesi kedua Fakultas Keperawatan.

Prof. Dr. Dudi Aripin, drg., Sp.Kg., Subsp. KR.

Guru Besar Bidang Kariologi dan Ilmu Dasar Konservasi Gigi Prof. Dudi Aripin menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Menuju Tercapainya Indonesia Bebas Karies Tahun 2030 melalui Model Pentahelix dalam Penanganan Penyakit Karies Gigi”.

Prof. Dudi menjelaskan bahwa model pentahelix karies gigi merupakan model inovatif pengembangan penanganan karies dalam bentuk kolaborasi yang menghubungkan akademisi, praktisi/industri, masyarakat, pemerintah, serta media untuk menciptakan ekosistem berdasarkan kreatifitas dan pengetahuan yang diharapkan dapat menjadi solusi untuk pengembangan kreativitas, inovasi, dan teknologi mengenai karies.

“Peran unsur akademis diantaranya dengan melakukan riset-riset faktor risiko karies, pencarian solusi yang sesuai dengan kondisi lokal, mengembangkan teknologi inovatif untuk deteksi dini, pencegahan, dan pengobatan, melatih tenaga kesehatan dengan pendekatan berbasis evidence-based dentistry, berkolaborasi dalam dan luar negeri, berfokus pada penelitian dasar, pengembangan teknologi, hingga implementasi kebijakan dan program yang melibatkan pemerintah dan masyarakat,” ujar Prof. Dudi.

Praktisi dan industri juga memegang peran yang krusial dalam mendukung peningkatan kesehatan gigi dan mulut selama 4 dekade terakhir. Tantangannya adalah industri di Indonesia belum banyak yang memproduksi dan memasarkan produk perawatan gigi yang terjangkau dan efektif. Tidak hanya itu, melalui media para profesional dapat memberikan edukasi mengenai masalah kesehatan gigi dan mulut kepada sejumlah pasien.

Masyarakat dan pemerintah juga memegang peran penting pada model pentahelix karies gigi. Masyarakat sebagai sasaran utama dalam menyelesaikan masalah karies juga berperan penting dalam sebagai pelaksana program kesehatan gigi dan mulut dengan meningkatkan kapasitas partisipasi masyarakat. Pemerintah berperan dalam pengembangan kebijakan baru berbasis ilmu pengetahuan serta dukungan pemerintah daerah untuk mempermudah struktur birokrasi dan komunikasi dalam mendukung Indonesia bebas karies 2030.

Prof. Dr. drg. Agus Susanto, M.Kes., Sp.Perio., Subsp. R.Perio.I.G.

Guru Besar Bidang Ilmu Rekonstruksi dan Regeneratif Periodontal Prof. Agus Susanto menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Potensi Pemanfaatan Bahan Alami dalam Terapi Penyakit Periodontal dan Regenarasi Jaringan”. Prof. Agus menyampaikan bahwa penelitian yang dilakukan berfokus pada pemanfaatan kitosan dan kolagen menjadi membran barrier, serta melakukan eksplorasi potensi daun kelor sebagai terapi tambahan pada perawatan penyakit periodontal.

“Aplikasi gel kitosan pada penderita periodontitis kronis menunjukkan penurunan penanda inflamasi gingiva, karena sifat antimikroba. Hasil penelitian menunjukkan membran kitosan-kolagen mampu meningkatkan jumlah fibroblas dan pembuluh darah baru dalam proses penyembuhan luka,” kata Prof. Agus.

Mengenai tanaman daun kelor, Prof. Agus menyampaikan bahwa ekstrak daun kelor memiliki potensi besar dalam pengobatan penyakit periodontal karena kandungan senyawa bioaktif yang melimpah. Hasil penelitian efektivitas daun kelor menunjukkan adanya pengaruh gel daun kelor pada penyembuhan luka dan berpotensi sebagai terapi tambahan pada penyembuhan luka dan regenerasi jaringan.

Berdasarkan potensi tersebut, maka diperlukan penelitian yang lebih komprehensif dengan melibatkan peneliti dari berbagai kajian ilmu, serta kolaborasi bersama pemerintah dalam mengembangkan kemandirian bahan baku di Indonesia sehingga memberikan manfaat dalam pelayanan kesehatan gigi kepada masyarakat.

Prof. Laili Rahayuwati, Dra, M.Kes, MSc, Dr.PH.

Guru Besar Bidang Ilmu Perilaku dan Promosi Kesehatan dalam Keperawatan Komunitas Prof. Laili Rahayuwati menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Promosi Kesehatan: Pendekatan Keperawatan Melalui Perubahan Perilaku dalam Membangun Kesehatan Keluarga dan Komunitas secara Komprehensif”.

Prof. Laili mengatakan bahwa perawat sebagai profesi di bidang kesehatan memiliki  peran dan tanggung jawab sebagai provider kesehatan, koordinator, kolaborator, komunikator, promotor, konselor, edukator, advokat, dan peneliti. Oleh karena itu, penting bagi perawat melakukan promosi kesehatan dengan melibatkan berbagai bidang ilmu.

“Model promosi kesehatan berbicara terkait interkoneksi kesehatan baik tingkat individu hingga level kebijakan. Lingkaran ini menunjukkan sinergi antara individu, keluarga, organisasi, dan kebijakan membentuk ekosistem yang saling memperkuat,” ungkap Prof. Laili.

Prof. Laili menjelaskan bahwa contoh implikasi pada pembangunan komunitas dan masyarakat adalah dengan terbentuknya program pembangunan “Desa Sehat dan Produktif” yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat. Program menciptakan kawasan lingkungan sehat melalui pendekatan holistik berbasis teknologi lokal dan pemberdayaan masyarakat.

Promosi kesehatan juga berkontribusi pada peningkatan produktivitas individu dengan mendorong perilaku hidup sehat. Keberhasilan promosi kesehatan juga memungkinkan pengurangan beban anggaran yang dialokasikan untuk pengobatan penyakit, karena pencegahan lebih diutamakan dibandingkan pengobatan.Salah satu tantangan utama program ini adalah efek jangka panjang dari promosi kesehatan yang tidak selalu dirasakan secara instan, sehingga masyarakat cenderung kurang antusias dalam mengadopsi perubahan, serta kualitas layanan kesehatan preventif dan promotif yang masih perlu ditingkatkan.

Prof. Yanny Trisyani Wahyuningsih, S.Kp., M.N., Ph.D.

Guru Besar Bidang Ilmu Keperawatan Gawat Darurat Prof. Yanny Trisyani menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Penguatan Kompetensi Perawat Gawat Darurat untuk Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan dan Kehidupan Sehat Sejahtera bagi Masyarakat”.

Pada kesempatan ini, Prof. Yanny mengatakan bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan gawat darurat diperkirakan akan terus meningkat karena tingginya prevalensi kasus yang berpotensi kegawatan dan jumlah populasi yang besar di Indonesia. Oleh karena itu, kebutuhan akan perawat gawat darurat yang kompeten untuk mendukung layanan kesehatan gawat darurat yang aman dan berkualitas pada masyarakat menjadi sangat penting.

“Praktik keperawatan gawat darurat di Indonesia saat ini masih terdapat perawat gawat darurat yang belum memiliki pendidikan profesional. Hal tersebut menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan dan perawatan gawat darurat yang aman dan efektif berhubungan dengan ketersediaan perawat yang memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” kata Prof. Yanni.

Prof. Yanni menambahkan bahwa sumber daya perawat spesialis yang dihasilkan melalui program pendidikan spesialis sangat penting, bukan hanya untuk peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, tetapi juga untuk pengembangan profesi keperawatan, khususnya keperawatan gawat darurat di Indonesia. 

Penguatan kompetensi keperawatan gawat darurat melalui pengembangan pendidikan spesialis keperawatan gawat darurat sangat mendukung upaya pelayanan kesehatan yang aman, efektif, dan berkualitas bagi masyarakat. Penguatan kompetensi ini ditujukan untuk mendukung pencapaian kehidupan sehat dan sejahtera bagi masyarakat yang sesuai dengan mandat sosial profesi keperawatan.*

Share this: