[Unpad.ac.id, 21/10/2013] Sebanyak 200-an peserta dari berbagai daerah menghadiri Seminar Nasional Perempuan dan Petualangan pada Sabtu (19/10) kemarin. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Bale Santika Unpad Jatinangor dengan menghadirkan dua perempuan petualang, Saur Marlina Manurung (Butet Manurung) dan Ami Kadarharutami Saragih sebagai pembicara. Butet merupakan seorang pendiri klub pendidikan alternatif Sokola, sedangkan Ami merupakan perempuan petualang peduli lupus yang aktif dalam Yayasan Lupus Indonesia (YLI).

Dalam rilisnya disampaikan bahwa seminar nasional yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa PMPA Palawa Unpad ini dibuka dengan penampilan Tari Saman yang ditampilkan oleh klub tari Jurusan Hubungan Internasional FISIP Unpad. Pada kesempatan tersebut, Ami dan Butet sebagai pembicara memaparkan pengalaman tentang petualangannya yang mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Butet dengan Sokola yang didirikannya kini telah mencetak kesuksesan dengan hadirnya sekolah di beberapa masyarakat adat di seantero nusantara. Aceh, Pulau Wailago, dan Halmahera adalah tiga diantaranya.
Misi tim Sokola sendiri adalah mengajarkan baca-tulis-hitung agar suku-suku di daerah tersebut dapat mandiri dan bertahan dari berbagai hempasan gelombang globalisasi yang datang kepada mereka, serta tidak mudah dipermainkan oleh pihak tertentu yang ingin menyerobot sumber daya alam dan hak-hak mereka serta perlakuan tidak adil lainnya. Meski butuh waktu yang panjang serta pengorbanan yang cukup banyak, Butet dan segenap rekan seperjuangannya mampu menghasilkan perubahan yang bermanfaat.
Sedangkan Ami bersama rekan-rekannya di YLI yang rata-rata ibu-ibu berusia 40 tahun ke atas melakukan pendakian gunung di dalam maupun luar negeri untuk menggalang dana dan kampanye bagi penderita Lupus di Indonesia. Ciremai, Tambora, Rinjani, dan Cartensz Pyramide (Indonesia) adalah beberapa di antara 12 gunung di Indonesia yang telah mereka daki. Tidak hanya puncak-puncak di Indonesia, Tim Pendaki Lupus pun berhasil menjejakkan kaki di puncak Gunung Kallapathar (Nepal), Kilimanjaro (Tanzania), serta Cayambe dan Cotopaxi (Ekuador).
Dengan segala tantangan, khususnya hal yang menyangkut usia mereka yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi, rupanya tidak menghalangi hasrat mereka untuk membantu sesama, khususnya Odapus (orang dengan penderita lupus). Menggalang dana kemanusiaan, penyuluhan, dan publikasi adalah beberapa dari cara yang mereka lakukan. Seminar ini dimaksudkan menginspirasi peserta untuk melakukan kegiatan petualangan yang bermaanfaat bagi orang lain, tidak sekadar demi kebanggan atau kepuasan pribadi.
Pada kegiatan kali ini, ide berperan aktif dalam upaya mengurangi produksi sampah plastik yang diembuskan oleh panitia disambut antusias oleh para peserta dengan membawa tempat minum sendiri. Tidak hanya itu, semua makanan ringan yang disajikan pun tidak berplastik tetapi terkemas dalam kantong kertas.
Rangkaian acara yang berdurasi sekitar lima jam ini ditutup dengan lantunan tembang akustik yang dibawakan oleh Mukti-Mukti. “Jangan biarkan anak kita tak memahami matahari, hutan, gunung, sawah, sungai, desa, dan rindu akan saudara … jangan biarkan anak kita tak memiliki apa-apa.” Salah satu penggalan lirik yang seolah ingin mengajak kita untuk memerhatikan lingkungan dan menjaga kesehatan ekologi, terasa benar adanya. *
Rilis oleh: Unit Kegiatan Mahasiswa PMPA Palawa Unpad/mar *
