Dr. Yoni Fuadah Syukriani, dr., M.Si., Sp.F., DFM, “Lulusan Pendidikan Kedokteran Harus Siap Hadapi Kemajuan Teknologi Digital”

Dekan Fakultas Kedokteran Unpad, Dr. Yoni Fuadah Syukriani, dr., MSi., SpF., DFM, saat menyampaikan orasi ilmiah peringatan Dies Natalis ke-59 FK Unpad di Auditorium Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Jln. Eijkman, No. 38, Bandung, Kamis (22/09). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

[Unpad.ac.id, 22/09/2016] Pendidikan kedokteran harus bersiap menghadapi berbagai tantangan globalisasi dan masifnya kemajuan teknologi digital. Kesiapan ini juga berkaitan pula dengan menyongsongnya era bonus demografi yang diprediksikan akan mencapai puncaknya di Indonesia pada 2035.

Dekan Fakultas Kedokteran Unpad, Dr. Yoni Fuadah Syukriani, dr., MSi., SpF., DFM, saat menyampaikan orasi ilmiah peringatan Dies Natalis ke-59 FK Unpad di Auditorium Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Jln. Eijkman, No. 38, Bandung, Kamis (22/09). (Foto oleh: Tedi Yusup)*
Dekan Fakultas Kedokteran Unpad, Dr. Yoni Fuadah Syukriani, dr., MSi., SpF., DFM, saat menyampaikan orasi ilmiah peringatan Dies Natalis ke-59 FK Unpad di Auditorium Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Jln. Eijkman, No. 38, Bandung, Kamis (22/09). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

“Kita harus mempersiapkan lulusan yang mampu menggunakan teknologi. Sebagai peneliti, kita pun harus mulai menelurkan gagasan model pelayanan kesehatan baru yang lebih accessible dan affordable dibantu teknologi informasi digital,” demikian disampaikan Dekan Fakultas Kedokteran Unpad, Dr. Yoni Fuadah Syukriani, dr., MSi., SpF., DFM, saat menyampaikan orasi ilmiah peringatan Dies Natalis ke-59 FK Unpad di Auditorium Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Jln. Eijkman, No. 38, Bandung, Kamis (22/09).

Peringatan Dies Natalis FK Unpad ini dihadiri oleh Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad, beserta pimpinan universitas dan fakultas, perwakilan pimpinan rumah sakit di wilayah Bandung, pimpinan, guru besar, dan segenap civitas academica FK Unpad. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Yoni menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Pendidikan Kedokteran Masa Depan Menghadapi Revolusi Industri ke-4”.

Pesatnya perkembangan teknologi digital justru menguntungkan kualitas sektor kesehatan. Dr. Yoni mengatakan, dibanding profesi lain yang terkena imbas masifnya teknologi digital, kebutuhan akan tenaga kesehatan tetap tinggi. Yang berubah adalah terjadi pergeseran profil keahlian.

“Stabilitas jenis keahlian yang ada sekarang akan terganggu. Ada jenis yang menjadi kurang dibutuhkan dan menjadi lebih dibutuhkan. Yang jelas kita harus siap merespons secara terintegrasi dan komprehensif,” kata Dr. Yoni.

Lebih lanjut Dr. Yoni mengatakan, kemajuan teknologi mengubah akses pelayanan kesehatan, dimana sebelumnya dilakukan oleh profesional dan berbiaya mahal, menjadi jauh lebih terjangkau dan dapat diakses banyak orang. Inovasi ini diistilahkan dengan distractive innovation. Di satu sisi, inovasi ini dapat membuat pelayanan lebih dinikmati banyak orang, namun akan mengganggu status quo pelayanan kesehatan.

Dengan dukungan teknologi komunikasi digital pula, beberapa pelayanan kesehatan telah sampai hingga di tangan orang per orang. Dr. Yoni mengatakan, masyarakat umum dapat mengukur kondisi kesehatannya melalui beragam aplikasi yang tersedia di gawai. Bahkan, lanjutnya, aplikasi tersebut juga mampu menilai apakah hasil pengukuran tersebut akurat atau tidak.

Dr. Yoni mengurai, dahulu jika metode diagonosis pasti belum ada, maka pengobatan diberikan melalui ranah intuitive medicine, atau dilakukan oleh tenaga ahli. Ketika pola sudah jelas, selanjutnya pelayanan akan masuk ke ranah evidence base medicine. Jika diagnosis sudah pasti, selanjutnya masuk ke ranah precision medicine.

“Dahulu, hampir semua pelayanan pada dalam ranah kedokteran intuitif, sekarang bergeser pada evidence base dan precision medicine,” urai Dr. Yoni.

Dr. Yoni menyebut, pergeseran ranah itu juga akan menggeser pola pendidikan kedokteran ke arah precision medicine. Dokter akan lebih berperan dalam mengorganisir dan supervisi pelayanan. “Dokter hanya diperlukan pada penyakit baru yang mungkin muncul atau pada kasus yang kompleks,” sambungnya.

Pada tatanan kurikulum, Dr. Yoni berpendapat untuk melaksanakan secara paralel antara pendidikan kedokteran dasar dengan klinik. Ini didasarkan pada anggapan sebagian ahli bahwa pendidikan dasar kedokteran selama 4 tahun pertama sering dinilai tidak efisien.

Untuk itu, penerapan teknologi informasi digital harus selalu terintegrasi pada pendidikan kedokteran. Penyediaan fasilitas kuliah online akan memungkinkan mahasiswa kedokteran mendapatkan keilmuan kedokteran dasar.

“Jika kita menginginkan mahasiswa punya target kompetensi penanganan penyakit tertentu, kita harus lebih agresif mengembangkan perangkat pendidikan, seperti simulator penyakit, modul penyakit online, video pasien, dan pertemuan telemedicine,” papar Dr. Yoni.

Fakultas Kedokteran Unpad, kata Dr. Yoni, sudah berada pada jalur yang benar. Implementasi konsep Student Center Learning, pembelajaran ilmu dasar berbasis kasus, dorongan self directed learning, dorongan teknologi informasi digital, supervisi jarak jauh, telemedicine, early clinical exposure, dan interprofessional education sudah dilakukan FK Unpad.

“Di tahap awal pengembangannya, program tersebut dapat dikatakan distractive innovation, namun sekarang kita harus mempertajam program agar lebih sustainable,” kata Dr. Yoni.

dies-fk-3-tediKoridor ini pula yang terus ditekankan Rektor kepada FK Unpad. Dalam sambutannya, Rektor mengatakan, FK Unpad harus menjadi lokomotif baik bagi Unpad maupun pembangunan bangsa. “Bagaimana setiap langkah yang kita lakukan, basisnya harus betul-betul memahami lingkungan,” kata Rektor.

Dalam acara tersebut juga diberikan penghargaan “FK Unpad Award” 2016 kepada penggubah Himne Unpad yang juga budayawan, musisi, dan pegiat lingkungan, Iwan Abdulrachman. Penghargaan diberikan atas kontribusi Iwan dalam memberikan pendidikan karakter, kepemimpinan, dan keteladanan bagi mahasiswa FK Unpad. Penghargaan diberikan langsung oleh Dr. Yoni kepada Iwan Abdulrachman.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh


 

Share this: