Laboratorium Perguruan Tinggi Berpotensi Jadi Korporasi Akademik

Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad, dan Dekan Faperta Unpad, Dr. Ir. Sudarjat, M.P., saat melakukan panen tomat di Laboratorium Kultur Terkendali Faperta Unpad di Jatinangor, Rabu (9/11). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

[Unpad.ac.id, 9/11/2016] Rektor Universitas Padjadjaran, Prof. Tri Hanggono Achmad, beserta anggota Darma Wanita Persatuan (DWP) Unpad mengunjungi Laboratorium Kultur Terkendali Fakultas Pertanian di area ex Pedca Utara Unpad Kampus Jatinangor, Rabu (9/11). Kunjungan tersebut dalam rangka meninjau kondisi laboratorium yang telah berdiri sejak 1993 tersebut.

Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad, dan Dekan Faperta Unpad, Dr. Ir. Sudarjat, M.P., saat melakukan panen tomat di Laboratorium Kultur Terkendali Faperta Unpad di Jatinangor, Rabu (9/11). (Foto oleh: Tedi Yusup)*
Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad, dan Dekan Faperta Unpad, Dr. Ir. Sudarjat, M.P., saat melakukan panen tomat di Laboratorium Kultur Terkendali Faperta Unpad di Jatinangor, Rabu (9/11). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Kunjungan tersebut disambut oleh Dekan Faperta Unpad, Dr. Ir. Sudarjat, M.P., Guru Besar Faperta Unpad Prof. Dr. Ir. Benny Joy, M.S., Pengelola Lab Kultur Terkendali Dr. Ir. Dedi Widayat, M.P., serta sejumlah staf laboran dari Lab Kultur Terkendali.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Sudarjat mengatakan, tujuan pendirian Lab Kultur Terkendali pada masa itu ialah sebagai wahana meningkatkan kompetensi mahasiswa program Diploma Faperta serta menjadi ruang aplikasi hasil penelitian dosen Faperta. Pembangunan laboran ini diinisasi oleh alm. Prof. Dr. Ir. Aos M. Akyas, dan dibangun dari dana Poma (Persatuan Orang Tua Mahasiswa).

Laboratorium tersebut juga memiliki beberapa screen house yang hingga saat ini ditanami tomat hasil penelitian para dosen Faperta. Dalam perjalanannya, laboratorium ini menghasilkan sekitar 200-300 kilogram tomat setiap hari yang ditanam melalui hidroponik. Screen house tersebut sempat mencapai luas 5.400 meter persegi dengan total jumlah tanaman tomat mencapai 20.000 buah.

“Kalau sekarang banyak yang menonjolkan teknologi produksi pertanian, kita sudah sejak lama menghasilkan,” kata Dr. Sudarjat.

Tomat hasil laboratorium kemudian dipasarkan melalui kerja sama dengan pihak industri. Tomat ini sempat menjadi kualitas unggul di pasaran. Dr. Dedi mengatakan, tomat hasil laboratorium setidaknya dijual di pasar swalayan kelas atas.

“Kalau kita jual ke pasar biasa, harganya tidak masuk. Kalau dilihat dari prospek bisnis, kita punya prospek,” jelas Dr. Dedi

humas-unpad-2016_11_09-panen-tomat-2-dadan
Kebun tomat di Lab. Kultur Terkendali Faperta Unpad (Foto oleh: Dadan T.)

Namun, produktivitas yang menurun beberapa waktu terakhir menyebabkan pasokan tomat di pasaran menjadi terhenti. Dr. Dedi mengatakan, menurunnya produktivitas tomat antara lain disebabkan tingginya biaya produksi, meningkatnya serangan hama, serta rusaknya kondisi screen house karena faktor alam.

Selain memiliki varietas yang unggul, laboratorium ini juga sering dikunjungi sekolah, institusi, perguruan tinggi, hingga masyarakat umum, untuk melihat secara langsung proses budidaya tanaman dengan hidroponik.

Berkaca pada “kejayaan” produksinya, Faperta Unpad berencana melakukan revitalisasi laboratorium. “Laboratorium ini bisa menjadi korporasi akademik yang layak untuk kita kembangkan,” ujar Dr. Sudarjat.

Menanggapi rencana tersebut, Rektor mengatakan, pengembangan laboratorium ini harus dilanjutkan. Sebagai media implementasi riset, laboratorium ini akan menjadi modal bagi proses pendidikan vokasi yang saat ini menjadi rencana pengembangan Unpad.

Lebih lanjut Rektor menjelaskan, seiring pengoptimalan lahan Unpad di kampus Arjasari, pengembangan laboratorium juga akan dilanjutkan di kampus Arjasari. “Pengembangan di aspek substansial boleh dilakukan di Jatinangor, tetapi untuk pendidikan teknisnya harus kita dorong ke Arjasari,” kata Rektor.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh

Share this: