[unpad.ac.id, 18/9/2018] Menteri Komunikasi dan Informatika RI yang juga Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Padjadjaran, Rudiantara menyampaikan orasi pada peringatan Dies Natalis ke-61 Unpad, di Grha Sanusi Hardjadinata, Jalan Dipati Ukur No. 35 Bandung, Selasa (18/9).

Dalam orasi berjudul “Leap Frog Indonesia Melalui Ekonomi Digital”, Rudiantara mengungkapkan bahwa pengembangan ekosistem ekonomi digital merupakan kunci untuk mewujudkan ekonomi bangsa menuju jajaran lima besar ekonomi dunia.
“Pengalaman sejumlah perusahaan rintisan atau startup yang kini telah tumbuh besar seperti Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka menunjukkan bahwa teknologi informasi dan komunikasi merupakan roket pendorong utama yang dapat membuat sebuah lompatan katak (leap frog) dari titik nol, melewati banyak tahap sekaligus, untuk mencapai titik yang lebih jauh dari yang dapat dicapai perusahaan-perusahaan konvensional lainnya,” kata Rudiantara.
Untuk mengatasi kesenjangan kesejahteraan yang kian melebar di dunia saat ini, Rudiantara pun mengimbau agar dunia melakukan gerakan global. Hal ini Rudiantara pernah sampaikan dalam forum International Telecommunication Union (ITU) di Korea.
Salah satu caranya yaitu melalui penerapan model dan strategi bisnis ekonomi inovatif digital sehingga memungkinkan shared economy, digitalisasi tenaga kerja, dan inklusi keuangan. Usulan ini berangkat dari pengalaman sejumlah startup Indonesia yang membuktikan bahwa digitalisasi dapat diarahkan untuk pemberdayaan tenaga kerja melalui cara-cara baru.
Rudiantara juga menyebutkan bahwa ekonomi digital di Indonesia pada 2020 diperkirakan akan mencapai 130 miliar US dollar atau Rp 1.831 triliun. Dengan pencapaian tersebut, maka dua tahun mendatang ekonomi digital akan berkontribusi sekitar 11% terhadap produk domestik bruto Indonesia.
“Namun tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan untuk mencapai semua itu. Setidaknya terdapat tujuh isu utama dalam ekonomi digital yang harus menjadi perhatian bersama. Ketujuh isu tersebut adalah human capital, pendanaan startup , perpajakan, cyber security, infrastruktur TIK, perlindungan konsumen, dan logistik,” kata Rudiantara.
Menurut Rudiantara, yang harus dilakukan pemerintah untuk menyongsong perubahan besar dalam ekonomi dan bisnis adalah dengan banyak memangkas regulasi dan menciptakan ekosistem yang memberi kesempatan luas bagi inovasi untuk berkembang.
Rudiantara menambahkan, kepemimpinan di era digital harus ditempuh setidaknya dengan tiga prinsip, yaitu less of a regulator, dengan melakukan simplikasi regulasi, penyederhanaan, dan penghapusan perizinan; more of a facilitator, dengan memberikan kebijakan afirmatif dalam pengambangan infrastruktur, mendorong kewirausahaan digital, dan menumbukan talenta ekonomi digital; dan more of an accelerator, dengan mempercepat pertumbuhan startup digital baru dan sektor usaha lainnya terutama UMKM.
“Pemerintah dan dunia pendidikan harus bahu membahu menumbuhkan dan mendampingi anak-anak muda untuk memiliki passion teknoprener dan menjadi tenaga kerja yang memilki keterampilan digital yang mampu memandang permasalahan masyarakat sebagai tantangan untuk diselesaikan dan dimonetisasi,” kata Rudiantara.
Beberapa waktu yang lalu, Gojek Indonesia meluncurkan Go-Viet di Hanoi, Vietnam. Menurut Rudiantara, hal ini menunjukkan kemampuan anak-anak bangsa untuk menyelesaikan permasalahan umat manusia modern.
“Pada rentang ekonomi digital yang masih sangat muda, anak-anak bangsa kita telah mampu menorehkan legacy yang bukan hanya manis untuk dikenang, namun juga pasti akan menginspirasi pencapaian anak bangsa lainnya di ranah digital dunia,” kata Rudiantara.
Menurutnya, fenomena ini juga membuktikan bahwa ruang digital di Indonesia mempunyai kesempatan yang sama dengan negara-negara lain di dunia. Pada dunia yang semakin digital, cakrawala pandang terhadap pasar harus lebih luas terbentang.
Sementara itu, untuk turut menyiapkan sumber daya manusia Indonesia dalam mendukung transformasi digital serta peningkatan ekonomi digital, dalam waktu dekat Kominfo akan meluncurkan “Digital Talent Scholarship”. Program ini berbentuk beasiswa pelatihan intensif dengan menggandeng lima perguruan tinggi di Indonesia, termasuk Unpad.
Laporan oleh Artanti Hendriyana/am
