[Unpad.ac.id, 29/10/2012] Peningkatan kompetensi pembelajaran di kalangan civitas akademika Unpad perlu didukung adanya struktur dan metode pembelajaran yang tepat. Salah satu struktur pembelajaran yang penting ialah model pembelajaran secara e-learning serta pembuatan modul sebagai uraian dari apa yang telah dijelaskan melalui e-learning. Semakin jelas bahan ajar yang dijelaskan di dalam modul, maka semakin besar mahasiswa akan mempelajari bahan ajar.

Menurut mantan Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Atwi Suparman, M.Sc., di dalam sebuah modul pembelajaran perlu adanya sebuah statement dari dosen pengampu tentang isi bahan ajar serta relevansi manfaat mempelajari modul tersebut bagi mahasiswa, agar mahasiswa merasa perlu untuk mempelajari modul tersebut.
“Di dalam bab pendahuluan suatu modul harus ada deskripsi singkat, relevansi atau apa pentingnya modul tersebut, tujuan interaksional, serta peta kompetensi dari modul tersebut,” jelas Prof. Atwi saat menjadi pembicara di kegiatan “Pelatihan Pembuatan Modul Bahan Ajar untuk Rancangan Kuliah” di Ruang Oemi Abdurrachman, Kampus Fikom Unpad Jatinangor, Senin (29/10).
Ia pun menekankan, bahwa sejatinya istilah “pembelajaran” (instruction) itu tidak sama dengan “belajar” (learning). Learning hanya mengacu pada interaksi belajar antara siswa dengan pengajar, sedangkan instruction tidak hanya mengacu pada proses belajar tetapi ada pengaturan (desain) sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Seringkali, kedua istilah tersebut belum banyak diketahui oleh para dosen pengampu, sehingga modul yang selama ini dibuat baru sampai pada tahap learning saja. “Learning bisa saja terjadi tanpa adanya instruction,” tegasnya.
Oleh karena itu, modul yang dibuat oleh dosen pengampu tersebut harus berisi instruction yang jelas. Prof. Atwi pun memberikan catatan penting mengenai pembuatan modul bahan ajar ini, yakni bahasa yang digunakan formal dan komunikatif, isi uraian yang dipaparkan harus benar, mutakhir dalam teori dan penerapannya, runtut, sistematis, serta logis.
“Beberapa hal yang perlu diantisipasi, yaitu uraian yang disampaikan jangan terlalu singkat, harus diperbanyak ilustrasi gambar atau grafiknya, serta memperbanyak latihan yang relevan dengan tujuan instruksional,” Prof. Atwi menjelaskan.
Sementara itu, Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia menjelaskan, sudah sejak lama Unpad mengembangkan program e-learning. Sebagai tindak lanjut dari program tersebut, pelatihan pembuatan modul tersebut perlu digelar. Harapannya, akan didapatkan modul dari setiap mata kuliah yang akan diajarkan, serta ada materi yang bisa digunakan untuk program e-learning. “Kami (Unpad) ke depan akan menyediakan 100 paket modul dan program e-learning,” ujar Rektor.
Kegiatan pelatihan ini digelar oleh UPT E-Learning Unpad dan diikuti oleh perwakilan dosen dari setiap fakultas yang ada di Unpad. Menurut Ketua Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Unpad, Prof. Dr. H. Sam’un Jaja Raharja, drs., M.Si., modul tersebut merupakan jembatan dari materi-materi ajar dari model modul dengan bahan mata kuliah yang telah disajikan di portal e-learning. “Modul ini ialah uraian yang lebih lengkap dari poin-poin yang telah disajikan di e-learning,” tambahnya.*
Laporan oleh Arief Maulana/mar
