Laporan oleh Arif Maulana

sastra
Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Prof. Aquarini Priyatna, PhD, saat menjadi pembicara dalam diskusi bertema “Perempuan dan Kesusastraan Dunia” di acara Satu Jam Berbincang Ilmu (Sajabi) Dewan Profesor Unpad episode 5 secara virtual, Sabtu (14/11).

[unpad.ac.id, 15/11/2020] Tahun ini, penganugerahan Nobel Sastra diberikan kepada sastrawan perempuan asal Amerika Serikat, Louise Glück. Hal ini menambah daftar penerima Nobel Sastra dari kalangan perempuan, yaitu menjadi 16 dari total 117 pemenang Nobel Sastra sejak 1901 – 2020.

Jumlah penerima Nobel Sastra dari kalangan perempuan relatif masih sedikit. Realitanya, karya sastra yang ditulis oleh perempuan kerap dihadapkan pada dilema bias gender, isu genre, dan kanonisasi.

“Tulisan perempuan seringkali dianggap ‘tidak serius’,” ujar Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Prof. Aquarini Priyatna, PhD, dalam diskusi bertema “Perempuan dan Kesusastraan Dunia” di acara Satu Jam Berbincang Ilmu (Sajabi) Dewan Profesor Unpad episode 5 secara virtual, Sabtu (14/11).

Prof. Aquarini menjelaskan, tulisan perempuan dipandang tidak masuk pada kanonisasi sastra atau dominasi genre/topik/isu yang banyak ditulis penulis laki-laki. Hal ini yang melahirkan anggapan bahwa tulisan perempuan “tidak serius”.

[irp]

Padahal, isu yang digali penulis perempuan merupakan isu yang menjadi bagian dari kehidupan perempuan. “Masalahnya, apa yang penting buat perempuan seringkali dianggap tidak penting,” imbuh Prof. Aquarini.

Tidak hanya di dunia, diskriminasi terhadap perempuan dan karyanya juga terlihat di Indonesia. Prof. Aquarini menjelaskan, jika melihat data ensiklopedia sastra Indonesia Kemendikbud RI, dari total 246 penulis yang terdaftar, hanya 40 penulis perempuan. Beberapa nama penulis perempuan bahkan tidak terdokumentasikan.

“Menurut saya itu kecerobohan di satu sisi, tetapi juga itu manifestasi bahwa ada diskriminasi terhadap perempuan dan karyanya,” kata Prof. Aquarini

Guru Besar bidang ilmu sastra dan gender ini mengatakan, akademisi sastra sebaiknya lebih banyak menggali karya-karya sastrawan perempuan. Ini untuk membuktikan bahwa karya perempuan layak dipertimbangkan untuk “dibunyikan”, atau menjadi bahan diskusi dan kajian ilmiah.

“Kita sangat asyik membahas karya laki-laki, sehingga isu mengenai perempuan seringkali kurang muncul,” kata Prof. Aquarini.*

Share this: