Rilis

[unpad.ac.id, 3/8/2020] Sebelum masa pandemi Covid-19, kesehatan laut Indonesia cukup mengkhawatirkan. Namun, pemberlakuan pembatasan fisik (physical distancing) untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Indonesia sejak bulan Maret lalu ternyata memberikan kesempatan lingkungan untuk memulihkan diri secara alami.
“Hal ini karena pembatasan pergerakan manusia mengurangi aktivitas manusia yang menghasilkan polusi dan merusak ekosistem laut,” ujar dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad, Noir P. Purba, M.Si.
Sebelumnya diketahui bahwa Indeks Kesehatan Laut atau Ocean Health Index (OHI), yang dikembangkan oleh “National Center for Ecological Analysis and Synthesis” (NCEAS) dan “Conservation International”, menempatkan Indonesia pada peringkat 137 dari 221 negara pada tahun 2018, dengan total nilai 65 dari skala 100.
Nilai ini masih di bawah rata-rata kesehatan laut dunia, yaitu 71.
(baca juga: Masa Depan Perikanan dan Kelautan Ada di Tangan Generasi Muda)
Sebagai peneliti kelautan, Noir melakukan observasi pada kondisi laut Indonesia selama masa pandemi. Noir menemukan bahwa berkurangnya aktivitas manusia di pantai dan laut memberikan waktu bagi pemulihan ekosistem dan biota secara alami.
“Meski masih perlu penelitian lebih lanjut, sudah ada laporan kemunculan spesies laut ke daerah-daerah yang sebelumnya padat oleh kegiatan manusia,” ujar Noir.
Contohnya adalah kemunculan paus pembunuh atau Orca (Orcinus orca) di Anambas, Kepulauan Riau. Kehadiran mereka sebelumnya sangat jarang terdengar di daerah itu.
Di Atlantik Utara, Michelle Fournet, peneliti dari Cornell University di Amerika Serikat menyatakan bahwa selama pandemi terjadi pengurangan drastis polusi suara yang berasal dari kapal yang lalu lalang dan aktivitas manusia lainnya yang mengganggu sensor spesies paus. Hal tersebut mengakibatkan paus kembali menjelajah daerah yang sebelumnya padat oleh kegiatan pelayaran dan aktivitas di laut selama pandemi.
(baca juga: Bagaimana Hukum Memandang Eksploitasi Manusia di Lautan di Luar Yurisdiksi Nasionalnya?)

Selain itu, beberapa laporan juga mengindikasikan bahwa adanya penurunan harian emisi karbon dioksida di atmosfer. Banyak peneliti berargumen bahwa ini hanya dampak langsung dari penurunan drastis aktivitas manusia, meski ada kemungkinan untuk naik kembali.
“Namun, turunnya level karbon dioksida di atmosfer akan memperlambat proses pengasaman laut,” jelas Noir.
Laut memanas akibat meningkatnya gas rumah kaca–karbon dioksida (CO₂), nitrogen dioksida (N₂O), metana (CH4), dan freon–di atmosfer. Ini akan meningkatkan tingkat keasaman laut dan menyebabkan pemutihan pada terumbu karang (coral bleaching) yang berujung kepada kematian karang dan spesies laut yang menjadikan terumbu karang rumah mereka.
“Walaupun pertumbuhan karang tidak sampai 1 cm per tahun, pengurangan aktivitas turis diharapkan dapat mengurangi kerusakan karang dan memberi harapan untuk karang dapat tumbuh kembali,” harap Noir.
(baca juga: Dibutuhkan Inovasi dalam Menyelesaikan Permasalahan Kelautan dan Perikanan)
Hal ini pernah terjadi di pantai Maya Bay, Kepulauan Phi Phi, Thailand pada tahun 2018. Ketika itu pengelola pantai menutup lokasi wisata selama lebih dari 3 bulan untuk memperbaiki ekosistem terumbu karang yang rusak akibat kunjungan turis yang datang karena pantai tersebut menjadi lokasi syuting film, The Beach, yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio di tahun 2000.
Noir menjelaskan, setelah penutupan, disertai dengan pengawasan ketat dari para peneliti kelautan, biota-biota laut, seperti hiu karang (Carcharhinus limbatus), mulai muncul kembali di daerah tersebut. Salah satu ahli konservasi karang dari Malaysia yang merupakan pendiri dan CEO Ocean Quest Global, sebuah NGO yang fokus terhadap konservasi terumbu karang, Annuar Abdullah, mengatakan bahwa yang terjadi di Pantai Maya Bay menunjukkan bahwa faktor absennya manusia akan mempercepat pemulihan alam secara alami.
Di Hanauma Bay, Hawaii, AS, peneliti utama dari Coral Reef Ecology Lab, Hawaii Institute of Marine Biology, Ku’ulei Rodgers mengungkapkan optimismenya bahwa berkurangnya pengunjung di masa pandemi akan berdampak bagus bagi ekosistem karena hampir 80% polusi di laut berasal dari aktivitas manusia.
(baca juga: Perguruan Tinggi Ikut Andil dalam Membangun Perikanan dan Kelautan Berkelanjutan)
Laut dan Normal Baru
Noir mengatakan bahwa masih sulit untuk meneliti dampak Covid-19 secara langsung terhadap kesehatan laut mengingat begitu banyak faktor yang harus dipelajari, belum lagi masih terbatasnya pergerakan manusia. Namun, ada sedikit gambaran bahwa ketidakhadiran manusia memberikan sedikit waktu bagi laut untuk menyembuhkan diri.
“Ini karena laut memiliki mekanisme sendiri untuk memulihkan diri jika kita tahu apa yang menjadi penyebab stres pada ekosistem tersebut,” kata Noir.
Memasuki Adaptasi Kebiasaan Baru (new normal), pemerintah seharusnya juga mempersiapkan cara berpikir manusia terhadap kesehatan laut. Misalnya dengan meningatkan edukasi wisatawan untuk tidak membuang sampah ke laut dan perbaiki cara snorkling atau menyelam yang baik.
Selanjutnya, pemerintah seharusnya bisa mendorong sektor pariwisata laut untuk mempraktikkan gaya hidup yang rendah karbon, seperti menggunakan sepeda, angkutan massal, menanam tumbuhan, dan mengurangi konsumsi dengan wadah yang tidak bisa dipakai ulang.
Perlu dingat bahwa laut memberikan kontribusi signifikan terhadap kesehatan manusia. Peneliti dari Woods Hole Oceanographic Institute bahkan menemukan bakteria laut yang sangat penting untuk mengidentifikasi Covid, AIDS, dan SARS.
“Jadi, kenormalan baru seharusnya bisa membawa kita ke dalam kondisi di mana lingkungan dan manusia adalah satu sistem yang tidak terpisahkan, bukan saling menaklukkan,” pungkas Noir.(art)*
Artikel ini sebelumnya sudah dipublikasikan di https://theconversation.com/bagaimana-laut-menyembuhkan-dirinya-sendiri-selama-pandemi-141886. Artikel dicuplik dan dilakukan editing berdasarkan persetujuan Noir P. Purba.*
