
[unpad.ac.id] Filologi tidak sekadar ilmu yang mengkaji naskah-naskah kuno. Lebih dari itu, filologi berperan penting dalam membantu ilmu lainnya untuk mengungkap bagaimana tinggalan pemikiran nenek moyang di masa lalu.
Menurut Dosen Filologi pada Departemen Sejarah dan Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Dr. Elis Suryani N.S., filologi berperan dalam kajian multidisiplin. Khazanah naskah Sunda kuno dinilai banyak mengungkap beragam permasalahan sosial. Mulai dari hukum adat, pertanian, hingga naskah yang ada hubungannya dengan teknologi arsitektur.
Beberapa di antaranya yaitu, bisa membantu arkeologi dalam membaca aksara yang terdapat pada prasati, membantu ilmu sejarah dalam mengungkap kandungan naskah-naskah kesejarahan, hingga membantu rumpun ilmu kesehatan dalam mengungkap potensi tanaman obat tradisional yang terdapat dalam naskah kuno.
Elis mencontohkan, upaya pencegahan stunting sudah dijelaskan pada naskah Sunda kuno berjudul Sanghyang Titisjati Pralina. Tentunya hal ini berguna bagi ilmu kedokteran, keperawatan, hingga kesehatan masyarakat.
Beragam naskah tentang etika berpolitik, pandangan hidup, sistem pembagian kekuasaan, mampun kepemimpinan raja-raja Sunda terungkap dalam naskah sejumlah naskah Sunda kuno. Hal ini bisa menjadi acuan bagi ilmu komunikasi, sosial politik, hingga pemerintahan.
“Karena dari isi naskah-naskah Sunda itulah kita akan mengetahui bagaimana raja-raja di masanya berpolitik, melalui komunikasi yang dijalinnya dengan baik. Dengan demikian, bahasan tentang komunikasi politik ini pun sangat berkaitan erat dengan masalah kepemimpinan seorang raja Sunda pada zaman dahulu,” papar Elis.
Dengan mengkaji isi naskah kuno, akan tergali bagaimana pola kebudayaan lama dari suatu bangsa atau suku bangsa, sehingga bisa menjadi pijakan dari kebudayaan yang ada saat ini.
Kearifan lokal budaya yang dimiliki setiap suku bangsa, tersirat lewat tinggalan budaya yang diwariskan leluhurnya.
Salah satunya terlihat dari tinggal karuhun orang Sunda yang menyimpan beragam ide, gagasan, filsafat hidup, dan beragam pemikiran lainnya. Hingga saat ini masih dijadikan acuan serta masih sejalan dengan kehidupan masa kini.
Elis melanjutkan, naskah sebagai dokumen budaya tinggalan karuhun orang Sunda masih sangat melimpah dan relevan untuk diungkap isinya pada masa sekarang secara multidisiplin.
Beberapa naskah tinggalan karuhun Sunda berupa naskah lontar abad ke-16 saat ini sudah tidak dikenal lagi. Namun, ternyata ada beberapa hal menarik yang bisa digali, ungkap, bahkan bisa menjadi tuntutan moral dan budaya. Penggalian ini juga sekaligus membantu generasi saat ini untuk mengungkap lebih banyak kearifan lokal budaya Sunda masa silam.
Kendati berperan penting, penggalian dan pengkajian teks naskah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Seorang filolog harus memiliki pengetahuan dan kemampuan, tidak hanya di bidang linguistik, sastra, sejarah, atau folklor, tetapi juga bidang ilmu lainnya sesuai dengan isi atau teks naskah yang dikaji.
“Andai teks naskah itu mengungkap tentang tanaman obat keluarga, maka mau tidak mau harus mempelajari farmasi atau kedokteran,” ungkapnya
Selain itu, kata Elis, filolog juga harus paham budaya dari naskah yang dikajinya. Hal ini disebabkan oleh banyaknya naskah yang disalin dari naskah berbahasa lain. Atau ada pula naskah yang menggunakan kosakata pinjaman dari bahasa lainnya.(rilis)*
*Artikel ini merupakan hasil penyuntingan dari tulisan asli yang dikirim Dr. Elis Suryani N.S. Tulisan asli bisa dibaca pada tautan berikut.
