Mengenal Empat Robot Karya Mahasiswa Teknik Elektro Unpad

teknik elektro unpad
Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Rina Indiastuti meninjau aktivitas mahasiswa di Laboratorium Riset dan Tugas Akhir Robotics, AI, IoT, & Biomedical Engineering Prodi Teknik Elektro, 24 Mei 2023. (Foto: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Saat perkembangan teknologi robot dan kecerdasan buatan (AI) di dunia terus berkembang pesat, Indonesia seyogianya ikut ambil peluang dalam mengembangkan riset tentang robotika. Ini diharapkan akan mendorong lahirnya beragam produk robot dalam negeri yang bisa bersaing dengan produk di luar negeri.

Hal inilah yang mendorong mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran tertarik mengembangkan sejumlah purwarupa robot. Tidak sekadar untuk belajar, pengembangan robot tersebut juga didesain untuk memudahkan aktivitas manusia.

Kanal Media Unpad berkesempatan melihat aktivitas riset mahasiswa di Laboratorium Riset dan Tugas Akhir Robotics, AI, IoT, & Biomedical Engineering Prodi Teknik Elektro Unpad. Digawangi Dessy Novita, M.T., PhD., riset robotika di Teknik Elektro Unpad sudah dimulai sejak prodi tersebut pertama kali dibuka di Unpad pada 2015.

Menariknya, robot yang dikembangkan merupakan hasil riset yang sudah dilakukan turun temurun oleh mahasiswa. Dengan demikian, riset tersebut tidak berhenti manakala mahasiswa bersangkutan menyelesaikan studinya, tetapi dilanjutkan oleh para juniornya dengan konsep dan pengembangan lebih baru.

Saat ini, ada empat proyek robot yang dikembangkan. Empat proyek tersebut adalah sebagai berikut:

Pemonitor Tanda Vital

Robot pemonitor tanda vital dikembangkan Fajar Wira Adikusuma, alumnus Teknik Elektro Unpad angkatan 2018. Robot berbasis imaging photoplethysmography (iPPG) ini mampu membaca denyut nadi, laju pernapasan, saturasi oksigen, hingga tekanan darah melalui analisis deteksi wajah.

“Dasar dari robot ini sama seperti oksimeter di jari yang memanfaatkan perbedaan pantuan kelajuan cahaya di jari. Kalau ini memanfaatkan pantulan cahaya sekitar yang diserap dan dipantulkan ke wajah,” kata Fajar.

Ia menjelaskan, wajah mampu menyerap dan memantulkan cahaya. Di balik lapisan kulit wajah terdapat pembuluh darah. Melalui iPPG, kamera menangkap pantulan wajah. Hasil foto kemudian diolah di komputer menggunakan metode adaptif Region of Interest (ROI).

Metode ini mengambil piksel dari kulit dan kemudian diambil warna RGB-nya. Hasil tersebut kemudian diolah di aplikasi sehingga diperoleh tanda vital berupa data denyut nadi, laju pernapasan, saturasi oksigen, hingga tekanan darah.

Robot ini nantinya bisa digunakan untuk mengukur kondisi kesehatan pasien oleh dokter/perawat tanpa perlu bersentuhan langsung.

Robot Manipulator

Proyek robot kedua yang dikembangkan adalah robot manipulator. Proyek ini dilakukan oleh Kamarudin Anhar, mahasiswa angkatan 2017. Robot ini mengaplikasikan prinsip tangan manusia.

Secara sederhana, robot ini mengubah luaran dari obyek yang dideteksi menjadi input menggunakan inverse kinematics. Saat ada obyek dideteksi, robot akan mendekati obyek tersebut. 

Anhar mengatakan, robot ini berpeluang untuk digunakan untuk proses akhir vektor dalam perangkat apa pun. Contohnya untuk proses pengambilan imaji di kamera maupun pengambilan obyek di alat oksimeter.

“Diaplikasikannya bisa segala hal. Ini juga bisa dibuat untuk deteksi kanker kulit oleh tenaga medis tanpa bersentuhan langsung dengan pasiennya,” kata Anhar.

Robot Monitoring

Robot Monitoring sebelumnya dikembangkan oleh Nathaniel Andre. Setelah lulus, robot ini kemudian dilanjutkan oleh Firdaus Ari, mahasiswa angkatan 2019.

Robot ini didesain khusus untuk memantau aktivitas para lansia. Para lansia acapkali harus tinggal sendiri atau berdua dengan pasangannya di rumah tanpa ditemani pengasuh atau penjaganya. Melalui robot ini, kerabat dapat memantau aktivitas para lansia saat berada di dalam rumah.

Andre mengatakan, robot didesain seperti mainan mobil-mobilan yang bisa bergerak mengikuti target yang dideteksi Robot ini dilengkapi kamera yang mampu menangkap video dan memprosesnya menggunakan teknologi AI lalu mengirimkannya ke server. 

Melalui penyimpanan di server, kerabat dapat melihat langsung video secara berkala melalui website khusus yang disiapkan.

Untuk pengembangan selanjutnya, Ari mengatakan bahwa robot ini akan dilengkapi dengan sistem monitoring jatuh. Sistem ini akan mendeteksi apabila lansia terjatuh dan mengirimkan laporan ke pengguna/kerabat, sehingga mereka dapat langsung merespons dan mengirimkan bantuan.

Robot Humanoid

Robot ini khusus dikembangkan untuk kompetisi robot. Bertajuk “Padjavabot”, robot ini telah dikembangkan oleh seluruh angkatan di Teknik Elektro Unpad. Saat ini, ada 15 mahasiswa yang tergabung dalam pengembangan robot humanoid.

Muhammad Auzaie Gunawan, salah satu mahasiswa menjelaskan, selain digunakan untuk lomba, robot ini juga digunakan sebagai media belajar mahasiswa mengenai cara pengembangan robot, baik di sisi perakitan ataupun di sisi perangkat lunaknya. Saat ini, tim mendesain robot untuk bisa bermain bola dan mampu bertanding antar robot dalam kompetisi mendatang. 

“Robot ini digunakan dan dipelajari, bagaimana jalan baik dan benar, penggunaan baterai yang baik, kita pelajari center of gravity di robot,” jelasnya.*

Share this: