Olah Jiwa Buat Kesehatan Mental Ibu Pekerja Lebih Terjaga

Dosen Fakultas Psikologi Unpad Dr. Retno Hanggarini Ninin, M.Psi., Psikolog, menjadi narasumber Kajian Muslimah Musala Rektorat Unpad bertema “Pentingnya Merawat Kesehatan Mental Muslimah sebagai Ibu Pekerja dan Ibu Rumah Tangga” yang diselenggarakan di Ruang Rapat Bersama 2, Gedung Rektorat Unpad Jatinangor, Jumat (19/7/2024). (Foto: Salsabila Andiana)*

[Kanal Media Unpad] Menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga sekaligus ibu pekerja dapat membuat seorang ibu mengalami kelelahan. Kesehatan mental pun berpotensi terganggu.

Dosen Fakultas Psikologi Unpad, Dr. Retno Hanggarini Ninin, M.Psi., Psikolog, mengatakan bahwa penting bagi ibu untuk menjaga kesehatan mental. Bekerja, baik di dalam maupun luar rumah, jangan sampai dianggap beban.

Ia menjelaskan bahwa pemaknaan, atau pemikiran dan perasaan yang seorang ibu berikan kepada pekerjaan dapat menentukan bagaimana dampak psikologisnya.

“Pemaknaan, atau pemikiran dan perasaan kita terhadap pekerjaan itulah yang menentukan bagaimana dampak psikologis bekerja kepada kita,” kata Retno dalam Kajian Muslimah Musala Rektorat Unpad bertema “Pentingnya Merawat Kesehatan Mental Muslimah sebagai Ibu Pekerja dan Ibu Rumah Tangga” yang diselenggarakan di Ruang Rapat Bersama 2, Gedung Rektorat Unpad Jatinangor, Jumat (19/7/2024).

Dikatakan Retno, jika semakin lama seseorang membiarkan pemaknaan pada posisi beban, akan mengganggu kondisi mental.

“Akan semakin berat kalau kita tidak tahu bagaimana cara mengolah pikiran dan mengolah rasa supaya bisa memberikan pemikiran dan perasaan yang benar terhadap bekerja,” kata Retno.

Untuk itu, Retno mengatakan penting untuk melakukan olah jiwa. Jangan ada pikiran jika ibulah yang paling berkorban atau berjasa pada keluarga. Perasaan ini dapat menggerogoti jiwa karena dapat menimbulkan kelelahan secara psikis.

Kemampuan untuk mengolah jiwa juga dapat berefek pada kesehatan mental yang terjaga. Dikatakan Retno, dalam Al-Quran sudah tercantum tentang cara agar manusia bahagia dalam berbagai kondisi, termasuk dalam bekerja.

Salah satu hal yang perlu diyakini adalah Allah tidak akan membebani kita akan sesuatu melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Selain itu, Allah mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Boleh jadi kita tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik untuk kita, juga sebaliknya. Maka, lakukan sesuai dengan kesanggupan, lalu serahkan sisanya pada Allah.

“Maka kalau kita bisa meletakan pikiran dan perasan kita terhadap situasi itu sehingga kita tahu dimana letak kebaikan dari situasi itu, maka kita akan bisa menghadapi situasi itu dengan rasa syukur,” kata Retno.

Dengan demikian, yang perlu diolah adalah pemikiran kita dan perasaan, agar pemikiran dan perasaan tersebut benar terhadap berbagai situasi. Respons dalam menghadapi situasi tersebut pun dapat lebih cermat, bukan sesuatu yang spontan.

Menurut Retno, mengetahui letak kebaikan dari situasi yang dihadapi dapat membuat situasi tersebut menjadikan kita manusia yang lebih baik. (arm)*

Share this: