Prof. Dr. Kazuhiko Takeuchi, “Transdisiplin Adalah Kunci Studi Keberlanjutan”

Prof. Dr. Kazuhiko Takeuchi dari United Nations University Jepang, saat menjadi narasumber pada International Sustainability Science Symposium 2016 di Bale Sawala Unpad Jatinangor, Selasa (20/09). (Foto oleh: Dadan T.)*

[Unpad.ac.id, 20/09/2016] Metode transdisiplin merupakan kunci kontribusi ilmiah dalam studi dan penelitian terkait sustainability (keberlanjutan). Tidak cukup hanya interdisiplin saja karena perlu juga partisipasi stakeholders serta sinergi peneliti dengan masyarakat.

Prof. Dr. Kazuhiko Takeuchi dari United Nations University Jepang, saat menjadi narasumber pada International Sustainability Science Symposium 2016 di Bale Sawala Unpad Jatinangor, Selasa (20/09). (Foto oleh: Dadan T.)*
Prof. Dr. Kazuhiko Takeuchi dari United Nations University Jepang, saat menjadi narasumber pada International Sustainability Science Symposium 2016 di Bale Sawala Unpad Jatinangor, Selasa (20/09). (Foto oleh: Dadan T.)*

Hal tersebut dikatakan Prof. Dr. Kazuhiko Takeuchi dari United Nations University Jepang, saat menjadi narasumber pada International Sustainability Science Symposium 2016 di Bale Sawala Universitas Padjadjaran Jatinangor, Selasa (20/09). Simposium tersebut berlangsung hingga Rabu (21/09) besok dan menghadirkan pula narasumber Prof. Armida S. Alisjahbana, SE., MA., PhD., (Unpad), Dr. Annete Bos (Monash University Australia), Dr. Mindi Schneider (Erasmus University of Rotterdam Belanda), Prof. Dr. Michiel A. Heldeweg, LL.M. (University of Twente Belanda) dan Sunardi Sudianto, PhD (Unpad).

Prof. Kazuhiko menjelaskan, interdisiplin mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu sementara transdisiplin menggabungkan pula pihak nonakademik. Interdisiplin mengembangkan integrasi antara teori dan pengetahuan ilmiah, sementara transdisiplin mengembangkan integrasi antara teori dan pengetahuan ilmiah maupun kearifan lokal di masyarakat.

Senada dengan hal tersebut, Dr. Mindi Schneider yang mengajar di International Institute of Social Studies (ISS) Erasmus University Belanda mengatakan, saat ini Sustainability Science fokus pada model yang memisahkan antara isu ekonomi, sosial dan lingkungan. Namun model tersebut dipandang tidak terlalu tepat.

“Keberlanjutan (sustainability) tidak sama dengan pembangunan keberlanjutan (sustainable development). Jadi kami mengajukan model yang memiliki kategori lebih spesifik yang melibatkan komunitas dan praktisi, yaitu agroecology (agroekologi), food sovereignity (kedaulatan pangan), dan food justice (keadilan pangan),” ujar Dr. Mindi.

Agroekologi, ujar Dr. Mindi, adalah pengetahuan transdisiplin yang menggabungkan agronomi, hortikultur, dan ekologi. Di dalamnya termasuk pula praktik pertanian yang tumbuh di masyarakat serta penelitian ilmu sosial. *

Lampiran:

Laporan oleh: Erman

Share this: