Laporan oleh Anggi Kusuma Putri
[Kanal Media Unpad] Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran Restuning Widiasih, S.Kp., Mkep., Sp.Mat., PhD., bersama dengan anggota tim peneliti lainnya melakukan riset membuat perangkat portabel pemantau detak jantung serta pergerakan janin di dalam perut ibu. Alat yang diberi nama Detect Me ini dapat digunakan secara mandiri oleh ibu hamil melalui aplikasi pada perangkat pintar (smartphone).
Dalam acara HardTalk yang disiarkan di Kanal YouTube Unpad, Restuning menjelaskan bahwa penelitian ini dilatarbelakangi angka kematian ibu dan bayi serta kematian janin di Indonesia yang masih cukup tinggi. Selain itu, banyaknya kasus kematian janin yang tidak terdeteksi sejak awal juga menjadi latar belakang dari penelitian tersebut.
Restuning menyampaikan bahwa alat ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksa gerakan janin. Alat ini juga akan sangat membantu bagi ibu hamil yang lokasinya jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan. Selain itu, alat ini akan membantu bagi ibu hamil yang memiliki kehamilan dengan risiko tinggi yang sewaktu-waktu dapat mengancam diri dan janinnya.
“Alat ini akan membantu memantau untuk ibu-ibu yang hamil dengan resiko tinggi atau kondisi janinnya mungkin terindentifikasi akan resiko tinggi. Juga untuk daerah-daerah yang akses ke pelayanan kesehatan itu jauh,” jelas Restuning.
Penelitian yang dimulai pada tahun 2019 ini telah melewati beberapa tahap penelitian. Tahap awal yang dilakukan Restuning dan tim adalah memastikan alat yang mereka ciptakan dapat mendeteksi dan memisahkan antara denyut jantung ibu dan bayi. Setelah itu, perlu memastikan kembali alat yang dibuat cukup sensitif untuk mendeteksi hal tersebut.
“Pemisahan-pemisahan suara itu yang proses penelitiannya cukup panjang karena kita ingin memastikan bahwa ini betul yang kita deteksi itu denyut jantung janin,” jelasnya.
Penelitian ini dilanjutkan dengan tahap menyiapkan aplikasi “Detect Me” di smartphone yang akan dikoneksikan dengan Heart Detector and Movement (HMD).
“Saat ini kita masih dalam tahap HMD-nya sendiri dan aplikasinya sendiri, nanti di tahap yang kedua akan dikoneksikan. Dengan teknologi wireless nanti akan dikoneksikan antara HMD dan aplikasinya, sehingga ibu bisa mendeteksi bagaimana denyut jantung janinnya dan gerakannya dari aplikasi tersebut,” kata Restuning.
Tidak hanya itu, penelitian ini juga mengkaji tingkat kesadaran ibu hamil untuk mengetahui kesehatan janin dan kebutuhan ibu terkait dengan alat yang bisa digunakan di rumah.
Restuning menjelaskan bahwa penelitian yang masih terus berlangsung ini kemungkinan akan mulai dapat ditemukan di pasar sekitar 2-3 tahun lagi. Hal ini karena tim peneliti masih terus mengembangkan alat yang aman, ringkas, dan tentunya sangat mudah untuk digunakan.
“Proses untuk terintegrasi ke pelayanan kesehatan itu kita butuh diseminasi, kita butuh proses kerja sama, begitu juga untuk proses sampai ke market. Tentu yang kita jual harus terjaga keamanannya dan kemudahannya, itu yang menjadi pertimbangan kita,” jelasnya.
Restuning telah melakukan riset untuk menentukan kisaran harga alat ini kelak. Dia menyampaikan mungkin alat ini akan dijual dengan harga di atas Rp 1 juta, tetapi ini bukanlah harga final karena penelitian ini masih berproses. Namun, tim peneliti juga mempertimbangkan apakah ke depannya alat ini harus dimiliki atau bisa dipinjamkan.
“Bisa juga ini menjadi bagian dari fasilitas kesehatan yang ada di Indonesia. Ibu-ibu yang berisiko tinggi hamilnya atau pun janinnya itu dipinjamkan alat supaya ketika dia di rumah dia tetap bisa memantau. Karena awalnya kita mengambangkan alat ini memang untuk bagian dari usaha meningkatkan kesehatan ibu dan janin,” kata Restuning. (art)*
