Meski Dominasi Pasar Farmasi ASEAN, Ternyata 90% Bahan Baku Farmasi Indonesia Masih Impor

Suasana seminar pentahelix bertema "Kemandirian Bahan Baku Farmasi" di Bale Sawala Unpad Jatinangor, Kamis (15/09). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

[Unpad.ac.id, 16/09/2016] Industri farmasi Indonesia tercatat sebagai yang terbesar di ASEAN serta berkontribusi kurang lebih 27% dari total pangsa pasar farmasi ASEAN. Di tingkat dunia, industri farmasi Indonesia menempati peringkat 23 besar, dan diperkirakan meningkat jadi 20 besar pada 2017 mendatang. Namun, 90% bahan baku farmasi di Indonesia masih impor dari negara lain, terutama Cina dan India.

Suasana seminar pentahelix bertema "Kemandirian Bahan Baku Farmasi" di Bale Sawala Unpad Jatinangor, Kamis (15/09). (Foto oleh: Tedi Yusup)*
Suasana seminar pentahelix bertema “Kemandirian Bahan Baku Farmasi” di Bale Sawala Unpad Jatinangor, Kamis (15/09). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

“Hal ini menunjukkan struktur industri farmasi di Indonesia belum optimal dan masih terbatas pada formulasi. Karenanya perlu upaya kemandirian di bidang bahan baku obat dan obat tradisional Indonesia melalui pemanfaatan keanekaragaman hayati yang tersinkronisasi harmonis serta didukung aliansi strategis yang komprehensif,” ujar Direktur Pelayanan Kefarmasian Kementerian Kesehatan RI, Dra. Dettie Yuliati, Apt., M.Si., saat menjadi narasumber pada seminar pentahelix bertema “Kemandirian Bahan Baku Farmasi” di Bale Sawala Universitas Padjadjaran Jatinangor, Kamis (15/09).

Seminar yang diselenggarakan dalam rangkaian peringatan Dies Natalis ke-59 Unpad ini menghadirkan narasumber dari berbagai pihak. Pada sesi 1, selain Detti Yuliati dari Kemenkes, hadir pula Dra. Rumondang Simanjuntak, Apt dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM), dan Dr. Keri Lestari, M.Si., Apt., dari Unpad. Pada sesi 2 yang membahas tema “Kolaborasi Garam & Gula Farmasi” hadir narasumber dari Kimia Farma, Rajawali Nusantara Indonesia, dan Unpad. Sedangkan di sesi 3 yang membahas tema “Model Kolaborasi dan Hilirisasi Riset Produk Farmasi” hadir sebagai narasumber perwakilan dari BPJS Kesehatan, Unpad BUMN Center of Excellence, Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia, serta perwakilan media dari Bisnis Indonesia.

Menurut Dettie, tantangan bagi industri bahan baku sediaan farmasi di Indonesia adalah pasar dalam negeri yang relatif kecil, profit margin juga kecil, sementara investasi awal sangat besar. Selain itu, ketersediaan sumber daya lokal dan teknologi pembuatan bahan baku obat juga menjadi tantangan tersendiri.

“Kondisi tersebut membuat industri bahan baku obat Indonesia tidak bisa bersaing dalam global price,” ujar Dettie yang merupakan alumni Farmasi Unpad.

Senada dengan Dettie, Rumondang Simanjuntak dari Badan POM mengatakan, ketergantungan industri farmasi nasional terhadap bahan baku obat impor membuat pengendalian terhadap bahan baku obat menjadi aspek kritis dalam mencapai kemandirian bahan baku obat.

“Industri bahan baku obat dapat meningkatkan daya saing industri farmasi lokal untuk percepatan proses produksi obat jadi dalam rangka mendukung ketersediaan obat di masyarakat dengan effiacy, safety dan quality terjamin serta harga terjangkau,” ujar Rumondang.

Sementara Dr. Keri Lestari mengungkapkan, dunia memiliki 40 ribu spesies tanaman, dan 30 ribu diantaranya ada di Indonesia. Sebanyak 9.600 diantaranya memiliki khasiat sebagai obat, dan 400 spesies telah dimanfaatkan sebagai obat tradisional.

“Tapi fakta mengejutkannya, di Indonesia baru ada 43 obat herbal terstandar dan 7 fitofarmaka,” ujar Dr. Keri Lestari yang pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Farmasi Unpad.*

Lampiran materi presentasi:

Laporan oleh: Erman

Share this: